oleh

Hasbi Anshory: Pelaku UMKM Harus Melek Teknologi

JAKARTA – Anggota Komisi I DPR RI, Hasbi Anshory, mengajak kepada para pelaku UMKM untuk memanfaatkan kemajuan teknologi. Menurutnya, pelaku UMKM saat ini harus melek teknologi bila ingin bertahan dan berkembang.

Hasbi menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber dalam Seminar Merajut Nusantara dengan tema “Peran Milenial dalam Mendorong Digitalisasi UMKM di Tengah Pandemi Covid-19” yang diselenggarakan BAKTI Kominfo bekerja sama dengan DPR RI.

“Memang harus semua pelaku UMKM melek teknologi,” kata Hasbi.

Ia mengungkapkan, Indonesia 10 tahun mendatang akan mendapatkan bonus demografi. Sehingga, menurutnya, hal ini harus bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian di Indonesia.

“Kalau ini tidak dimanfaatkan dengan baik maka kita yang akan buntung. Bonus demografi harus kita songsong sehingga ke depan ekonomi Indonesia akan lebih baik,” ujarnya.

Hasbi menegaskan, dukungan pemerintah dalam hal ini cukup bagus. Pertama, pemerintah mengeluarkan program PEN, di mana hal itu sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat dan pro terhadap UMKM.

Ia memaparkan, biaya penanganan pandemi Covid-19 dari pemerintah sebesar Rp677,20 triliun. Adapun Rp123,46 triliun adalah untuk UMKM.

“Ini pemerintah serius dalam memulihkan perekonomian di masa pandemi,” tegasnya.

“Penekanan PEN untuk UMKM ini karena UMKM adalah jantung perekonomian kita. Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan PEN penting dilakukan. Serta pengawasan perlu agar tidak menyimpang dalam perjalanannya,” lanjut dia.

Selain Hasbi Anshory, seminar itu juga menghadirkan Praktisi Bidang Kehumasan dan Komunikasi Publik, Freddy Tulung serta Ketua APIDA Jambi, Candra Lela.

Freddy dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa saat ini hampir semua mulai tergantikan oleh robotisasi dan otomatisasi. Sehingga, menurutnya, masyarakat, khususnya generasi milenial harus bisa mengikuti perkembangan zaman tersebut.

“Semua akan tergantikan dengan artifisial integelegent atau kecerdasan buatan. Akibatnya, inilah yang disebut era distrupsi digital,” ujarnya.

Akibat dari distrupsi teknologi itu, kata dia, maka banyak sekali jenis-jenis produk yang akan hilang dan tergantikan. Menurutnya, Bappenas bahkan sudah mencanangkan antara 40-50 persen jenis pekerjaan akan hilang seiring adanya robotisasi dan otomatisasi.

“Kita lihat toko-toko retail sudah mulai tutup akibat itu,” lanjutnya.

Pemerintah, kata dia, harus mulai mengenal bagaimana generasi milenial yang dimiliki Indonesia.
Menurutnya, hal ini penting karena mereka adalah tulang punggung transformasi digital kita.

“Satu dari tiga penduduk kita adalah milenial,” ungkapnya m

Sementara itu, Candra Lela menyampaikan, digitalisasi adalah solusi bagi UMKM. Namun, menurutnya, masih banyak para pelaku UMKM yang masih mengandalkan promosi secara offline.

“Padahal kalau dari sisi kami, di tahun 2014 kami sudah merasakan dampak dari kemajuan digital,” paparnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

News Feed