Indonesia Berpeluang Pimpin Perekonomian Digital Secara Global

  • Bagikan

JAKARTA – Indonesia disebut-sebut berpeluang untuk memimpin perekonomian digital secara global. Hal itu lantaran Indonesia merupakan pasar yang besar dalam perekonomian digital selama ini.

Demikian disampaikan anggota Komisi I DPR RI, Hasbi Anshory dalam Webinar Literasi Digital yang digelar Kemkominfo bekerja sama dengan Komisi I DPR RI dengan tema “Mengembangkan Ekonomi Digital, Mewujudkan Transformasi Ekonomi Indonesia”, Sabtu (11/6/2022).

“Ekonomi digital ini merupakan suatu keharusan. Siap atau tidak siap harus dijalankan. Tinggal kita mau jadi pemimpin atau hanya penonton,” kata Hasbi.

Hasbi mengatakan, Indonesia merupakan negara yang memiliki total penduduk terbesar keempat di dunia. Sementara, jumlah penduduk usia produktif mencapai lebih dari 191 juta atau 70,7 persen dan sebagian besar merupakan generasi Z dan milenial.

“Sehingga ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk menjadi pemimpin dalam ekonomi digital,” ujarnya.

Indonesia, lanjut Hasbu, diperkirakan memiliki pasar perdagangan online formal sebesar 5 miliar dan 3 miliar perdagangan online informal. Menurutnya peta jalan digital 2021-2024 juga telah disiapkan oleh pemerintah dalam menyambut peluang ekonomi digital ini.

BACA JUGA :   Satgas TMMD Kodim Bojonegoro Kebut Pemeratan Aspal Jalan

“Tujuannya memberikan penjelasan mengenai arah kebijakan pelaksanaan serta target mempercepat akselerasi transformasi digital Indonesia. Telah dipetakan 100 inisiatif dalam 10 sektor seperti transformasi pariwisata digital, perdagangan digital, jasa keuangan digital dan lain-lain,” lanjut Hasbi.

Ia mengungkapkan, ekonomi digital menjadi fenomena baru yang semakin memiliki peran strategis dalam perkembangan ekonomi global. Hal ini dapat dicermati dalam perdagangan online yang memiliki dampak sangat signifikan.

“Dampak perdagangan online yakni financial benefit, job creation, buyer benefit, dan social equality,” ungkapnya.

Hasbi menyebutkan, 41,9 persen total transaksi ekonomi digital ASEAN ada di Indonesia. Sedangkan tantangan investasi digital yakni cyber security, persaingan yang semakin ketat, pembangunan sumber daya manusia, ketersediaan akses internet yang mumpuni, serta regulasi yang belum mengikuti perkembangan zaman.

Narasumber lain, Dosen FEB Universitas Jambi, Candra Mustika, dalam kesempatan itu menjelaskan soal transformasi ekonomi. Menurutnya, transformasi ekonomi adalah adanya perubahan secara struktural dalam ekonomi.

BACA JUGA :   Peraih Medali Perak di Popda Banten, Rizka Amanda Halim Buat Bangga SMAN 15 Kota Tangerang

“Kalau sebuah negara ingin berubah secara ekonomi maka perlu transformasi ekonomi,” kata Candra.

Ia menjelaskan, perkembangan ekonomi digital saat ini sudah semakin cepat. Sehingga, ekonomi digital saat ini tidak hanya ada di perbankan seperti dulu.

“Jadi ada perubahan dari ekonomi konvensional menjadi ekonomi digital. Dengan adanya ekonomi digital ini semuanya terjadi secara efisien. Ekonomi digital ini diharapkan mampu membuat perubahan pada transformasi ekonomi Indonesia,” ujarnya.

“Sektor yang menggunakan ekonomi digital pertama transportasi. Sekarang orang cukup menggunakan aplikasi untuk transportasi. Kemudian sektor kesehatan. Sekarang kita bisa menggunakan aplikasi seperti halodok dan lain-lain,” jelas dia.

Ia mengatakan, sektor e-commerce adalah sektor paling besar dalam ekonomi digital, seperti Tokopedia, Shopee dan lainnya. Kemudian juga ada sektor pendidikan seperti Ruang Guru.

“Transformasi ekonomi diharapkan bisa membuat perubahan ekonomi di Indonesia. Diharapkan dengan pengembangan ekonomi digital ini mampu memberikan kontribusi dalam meningkatkan PDB,” ucapnya.

BACA JUGA :   Hari Pangan Sedunia,DKP Sukabumi Dukung Kesehatan Masyarakat Melalui Program Gerimis Bagus

Candra mengungkapkan, di masa pandemi Covid-19, ekonomi digital ini juga yang paling tangguh dalam bertahan. Pasalnya, orang-orang lebih memilih menggunakan aplikasi dalam berbelanja dan lain-lain agar aman dari Covid-19.

Ia menambahkan, mengembangkan ekonomi digital sebagai salah satu syarat transformasi ekonomi juga memiliki tantangan, seperti masih banyak daerah terpencil yang belum menikmati internet 100 persen.

“Padahal syarat ekonomi digital ini ya internet. Kemudian masalah keamanan transaksi seperti pencurian, penipuan dan kejahatan lainnya. Selanjutnya logistik. Salah satu syarat transaksi e-commerce kan jasa pengiriman atau logistik. Kadang-kadang wilayah terpencil kesulitan dalam masalah ini,” imbuh dia.

Sementara dampak ekonomi digital ini bisa meningkatkan lapangan pekerjaan, meningkatkan investasi, meningkatkan peluang UMKM untuk berkembang dan menjangkau pasar global, serta membantu meningkatkan PDB Indonesia,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.