by

Filipina Kecam China yang Klaim Wilayahnya Picu Ketegangan di Laut China Selatan

DimensiNews.co.id- Filipina mengecam secara diplomatik atas tindakan China yang membangun dua kota baru di kawasan Laut China Selatan yang diklaim menjadi wilayah negeri tirai bambu.

Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin Jr. mengungkapkan, Manila sudah mengirimkan surat resmi ke Kedutaan Besar China.

Surat tersebut merupakan protes diplomatik negara Filipina yang keberatan wilayahnya diklaim sebagai bagian dari provinsi Hainan, China.

Selain itu, surat tersebut juga menyatakan protes atas tuduhan China terhadap Filipina soal penggunaan senjata radar di kapal Angkatan Laut Filipina di perairan negara itu.

“Ini adalah pelanggaran hukum internasional dan kedaulatan Filipina,” kata Locsin, dikutip dari CNN Filipina, Rabu (23/4/2020).

Sebelumnya diberitakan, situasi di kawasan Laut China Selatan semakin memanas ketika China membangun dua distrik baru di dekat kawasan tersebut. Termasuk yang diklaim Filipina yakni Kepulauan Spratly, Scarborough Shoal, dan Fiery Cross Reef.

Perlu diketahui, China, Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Taiwan bersitegang soal kepemilikan Kepulauan Spratly. Sementara Fiery Cross Reef, diklaim oleh Cina, Filipina, Vietnam, dan Taiwan. Sedangkan Taiwan, Cina, dan Filipina semuanya mengklaim Scarborough Shoal.

Sementara itu, ketegangan di Laut China Selatan juga membuat kapal perang Amerika Serikat (AS) dan Australia masuk ke kawasan ini pada Selasa (21/4/2020).

Sebagaimana dilaporkan Reuters, USS Amerika, USS Bunker Hills, USS Barry dan kapal Australia HMAS Parramatta beroperasi memantau kawasan ini di saat sebuah kapal China masuk di kawasan eksplorasi minyak Malaysia.

“Kehadiran dan operasionalisasi kami di Laut China Selatan, adalah bagian kami bekerja dengan para sekutu dan mitra kami,” sebut Letnan Nicole Schwegman, Jubir Komando Indo-Pasifik AS.

“Untuk mempromosikan kebebasan navigasi, serta prinsip-prinsip internasional yang mendukung keamanan dan kemakmuran di wilayah Indo-Pasifik,” tambahnya.

Masuknya kapal perang AS dan Australia tersebut berbarengan saat sebuah kapal survei China, Haiyang Dizhi 8, masuk ke perairan tersebut sejak 16 April.

Dikutip dari The New York Times, kapal itu berada di dekat ladang minyak yang tengah dikelola Petronas Malaysia, bahkan berhari-hari membuntuti kapal perusahaan minyak itu. (red)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed