JAKARTA- Angkatan Udara Israel mengklaim telah menjatuhkan lebih dari 1.200 bom ke wilayah Iran dalam serangan gabungan bersama Amerika Serikat selama 24 jam terakhir. Serangan berskala besar itu dilaporkan menewaskan ratusan orang dan melukai banyak warga sipil di berbagai provinsi.
Mengutip laporan Al Jazeera, salah satu serangan paling mematikan terjadi di sebuah sekolah dasar perempuan di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Sedikitnya 148 orang dilaporkan tewas, sebagian besar di antaranya anak-anak, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai kejahatan serius terhadap kemanusiaan. Ia menegaskan bangunan yang dibom merupakan sekolah dasar perempuan yang sedang dipenuhi murid saat serangan terjadi.
“Bangunan yang hancur itu adalah sekolah dasar untuk anak perempuan di selatan Iran. Serangan dilakukan pada siang hari, ketika para murid masih berada di dalam kelas. Puluhan anak tak berdosa dibunuh di lokasi ini saja,” tulis Abbas melalui akun media sosial X, Sabtu (28/2). Ia menambahkan, Iran tidak akan membiarkan serangan terhadap warganya berlalu tanpa konsekuensi.
Serangan gabungan AS–Israel dilaporkan berlangsung setelah perundingan nuklir antara Iran dan negara-negara Barat kembali gagal mencapai kesepakatan. Organisasi kemanusiaan Bulan Sabit Merah Iran menyebut serangan tersebut menyasar sedikitnya 20 dari 31 provinsi di Iran.
Dampak serangan juga menewaskan sejumlah tokoh militer penting Iran, termasuk Menteri Pertahanan Amir Hatami serta Komandan Angkatan Bersenjata Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mohammed Pakpour.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keyakinan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei turut tewas dalam rangkaian serangan tersebut.
“Ali Khamenei sudah tewas. Ini adalah peluang terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka,” ujar Trump, seperti dikutip Reuters.
Trump juga menegaskan bahwa operasi militer tersebut dilakukan untuk menghilangkan ancaman terhadap Amerika Serikat. “Ini adalah operasi skala besar yang sedang berlangsung demi melindungi rakyat Amerika dengan menyingkirkan ancaman nyata,” kata Trump, dikutip NPR.
Hingga kini, situasi di Iran masih dilaporkan sangat tegang, sementara komunitas internasional terus memantau potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.*
















