JAKARTA- Serangan udara yang diduga dilancarkan oleh Israel dilaporkan menghantam sebuah sekolah dasar khusus perempuan di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran Selatan, Sabtu (28/2/2026). Kantor berita resmi IRNA melaporkan sedikitnya lima siswi meninggal dunia dalam insiden tersebut. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terkait jumlah korban luka.
Insiden tragis yang menimpa warga sipil tersebut terjadi di tengah eskalasi militer besar-besaran yang terus mengguncang Teheran. Koresponden Al Jazeera melaporkan suara ledakan keras kembali terdengar di ibu kota Iran, mengindikasikan serangan yang berlangsung bukan bersifat sporadis, melainkan bagian dari operasi militer terkoordinasi.
Situasi di lapangan dilaporkan semakin sulit dipantau akibat pemadaman internet dan gangguan komunikasi di sejumlah wilayah Iran. Kondisi tersebut menghambat verifikasi lokasi dan dampak ledakan terbaru, meski pemerintah Amerika Serikat disebut telah mengonfirmasi bahwa serangan ini merupakan operasi berkelanjutan yang direncanakan berlangsung selama beberapa hari.
Menanggapi meningkatnya ketegangan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa negaranya selama ini mengedepankan hubungan baik dengan negara-negara tetangga di kawasan Teluk. Namun, Iran menyatakan tidak akan ragu mempertahankan diri jika diserang. Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan bahwa Teheran telah melancarkan serangan balasan dengan menargetkan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
Sementara itu, ketegangan regional juga merambat ke kawasan Teluk. Dua koresponden AFP melaporkan terdengarnya beberapa ledakan keras di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu malam. Hingga kini, otoritas setempat belum memberikan penjelasan mengenai sumber maupun lokasi pasti ledakan tersebut.
Media pemerintah Iran, dikutip CNN, melaporkan bahwa Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) telah mengonfirmasi peluncuran rentetan rudal yang menargetkan fasilitas militer strategis Amerika Serikat di kawasan Teluk. Sasaran tersebut meliputi Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Al Salem di Kuwait, Al Dhafra di Uni Emirat Arab, serta markas US Fifth Fleet di Bahrain.
Dengan keterlibatan langsung sejumlah negara Teluk dan pangkalan militer Amerika Serikat, konflik yang dipicu oleh operasi militer besar-besaran Presiden AS Donald Trump kini dinilai telah berkembang menjadi perang regional terbuka. Sejumlah negara, termasuk Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, dilaporkan menutup wilayah udara mereka untuk penerbangan sipil karena meningkatnya risiko serangan rudal dan aktivitas pertahanan udara.
Tewasnya anak-anak dalam serangan di Minab serta meluasnya medan konflik memicu kekhawatiran serius akan runtuhnya stabilitas kawasan Timur Tengah, dengan dampak kemanusiaan dan geopolitik yang berpotensi jauh lebih besar.*
















