by

Farah Puteri Nahlia, Sosok Milenial Anggota Komisi I DPR RI

Merawat Jatidiri, Berfikir Terbuka, dan Toleran

DimensiNews.co.id JAKARTA – Ditemui di salah satu mal di Jakarta, di sela makan siangnya, puteri sang jenderal polisi ini mengaku tumbuh dewasa dengan pendampingan sang ayah. Farah Puteri Nahlia (23). Ia adalah satu dari tiga politisi muda di DPR-RI, yang kini duduk di Komisi I, membidangi pertahanan, luar negeri, komunikasi dan informatika, serta intelijen. Dua politisi milenial lainnya adalah Hillary Brigitta Lasut, Partai Nasional Demokrat, dan M Rahul, Partai Gerindra.

Dalam pemilihan legislatif di DPR-RI, puteri pasangan Fadil Imran dan Ina Adiati ini merebut 113.263 suara di daerah pemilihan (Dapil) IX. Dapil ini meliputi Subang, Majalengka, dan Sumedang, Jawa Barat. Berikut petikan wawancara dengan Farah beberapa waktu lalu.

Perempuan sering dikaitkan dengan soal busana, dan memasak. Bagaimana dengan Farah?

Saya kurang peduli soal brand. Yang penting pakaian, alas kaki dan sedikit pernak pernik lain yang saya kenakan, sesuai tempat dan acara. Rapih, enak dipandang, dan tentu saja nyaman dipakai.

Soal makan ?

Makanan favorit saya, bakso. Saat saya tinggal di Inggris, saya membuat bakso sendiri.

Saya juga bisa memasak opor ayam, sop buntut, ayam bumbu rujak, dan menu ikan-ikanan lho. Penggemar berat masakan saya, ayah saya sendiri (tawa Farah pecah). Ayah saya paling suka menu ikan. Sop ikan, atau ikan tumis pete. Pete saya beli dari kawasan pecinan di Inggris. Kegemaran makan ayah lah yang membuat saya belajar memasak bermacam menu makan ikan.

Untuk makanan ringan, saya bisa membuat kue, dan pempek. Bahannya dari ikan salmon, bukan ikan tenggiri apalagi ikan belida ya ? Ngga ada di sana. (Farah tersenyum, tetapi mulutnya terus mengunyah hidangan yang tersaji di meja siang itu). Saya membeli ikan salmon di supermarket terdekat.

Politisi muda Partai Amanat Nasional, Farah Puteri Nahlia

Boleh ceritakan tentang hidup dan pendidikanmu di Inggris ?

Saya melanjutkan SMA di Ingris pada usia 16 tahun. Melanjutkan D3 di University Foundation Programme, David Game College, Inggris. S1 dan S2 saya peroleh di Royal Holloway University of London.

Saat hidup di Inggris, saya sudah cukup dibekali pesan “hidup bebas yang bertanggungjawab” oleh kedua orang tua saya, terutama ayah. Kalau saya mau, seperti halnya sebagian teman SMA saya di sana, bisa saja saya membolos sekolah karena malas, atau karena hal lain. Tinggal nitip absen pada kawan lain. Lagi pula saya kan jauh dari kontrol orang tua.

Tapi itu tidak saya lakukan karena makna “hidup bebas yang bertanggungjawab” itu terus mengiang di telinga saya. Jadwal hidup saya pun padat.

Jadwal saya rancang sendiri, terutama memberi waktu luang untuk membaca. Ya, saya memang hobi membaca. Buku setebal 300 halaman bisa saya lahap dalam tiga empat hari. Hobi saya lainnya adalah main jetski. Saat masih bersama orang tua, sepekan dua kali saya rutin main jetski.

Bagaimana kedua orang tua mendidik Farah ?

Ibu mengajarkan dan memberi contoh kepada saya tentang kesabaran, dan kasih sayang. Ayah mengajarkan dan memberi contoh tentang makna hidup dan sikap pribadi.

Jujur saja, hampir seluruh sistem nilai pribadi saya saat ini saya serap dari ayah. Saat saya masih SD dan SMP, saya merasa, ayah terlalu keras mendidik saya, terutama soal disiplin pribadi.

Awalnya menyakitkan sih. Kadang saya sampai menangis ditegur, dimarahi ayah. Tapi apa kata ayah saya ? “Kamu ngga boleh cengeng meski kamu perempuan”. “Iya, tapi kan saya perempuan?” sanggah saya. “Ngga ada tapi”, sergah ayah saya.

Saat diperantauan, jauh dari orangtua, sanak saudara, dan kawan, baru terasa betapa berharganya sistem nilai yang ditanam ayah pada diri saya. Saya menjadi mandiri, mudah beradaptasi, dan bisa mengatur membagi waktu agar setiap hari hidup saya punya nilai. Ayah juga yang melatih saya berani menyampaikan pendapat.

Saat tinggal di Inggris, saya teringat kembali apa yang disampaikan ayah saya. Bersikaplah toleran, dan berfikirlah secara terbuka. Perbedaan perbedaan itu saling memperkaya, dan bukan menjadi sumber pertentangan yang kontra produktif.

Apa yang disampaikan ayah saya, tercermin dalam hidup sehari-hari orang Inggris maupun kaum imigran dari berbagai bangsa di sana. Jadi, saat saya hidup di tengah mereka, saya merasa tidak asing dan tidak gagap bergaul, bertegur sapa dengan mereka.

Satu hal lagi yang diajarkan ayah kepada saya adalah, “Ingat selalu jatidirimu, agar kamu tidak asing dengan dirimu sendiri”. Itu saya rasakan saat saya bergaul dengan komunitas dari berbagai bangsa.

Percakapan menjelang sore itu berakhir saat Farah melihat jam tangannya. “Duh maaf, saya mesti buru buru ke dokter nih. Saya boleh pamit ya ?” (DN)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed