by

Dalam Kondisi Sakit Pria Singosari ini di PHK Sepihak Oleh Bosnya Sendiri

Tim Kuasa Hukum Supriyono

DimensiNews.co.id MALANG-Setidaknya, selama 13 tahun, Supriyono (54), pria asal Desa Purwosari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, yang bekerja di Bengkel Bubut Sahabat yang beralamatkan Wonorejo, Kelurahan Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang berakhir pahit.

Ironinya, H. Adi Sriono, yang notabene bosnya sendiri (pemilik bengkel,red) melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak terhadap Supriyono saat dalam kondisi sakit. Akibatnya, atas perkara yang dinilai PHK sepihak tersebut berujung di kepolisian.

“Klien kami di PHK tanpa melelaui proses yang benar menurut Undang-undang ditambah lagi karyawan dalam kondisi sakit. Jelas Hal ini telah melanggar prinsip kemanusiaan dan  undang-undang ketenagakerjaan, sehingga kami juga telah melaporkan perkara ini ke Polres Malang Kota,” kata Edi Rudianto S.Sy SH, selaku penasehat hukum dari Supriyono, Selasa (22/10/2019).

Sebenarnya, lanjut Edi, yang dilakukan Bos Bengkel Bubut Sahabat itu tidak benar, karena sudah terang dijelaskan dalam Undang-undang Ketenagakerjaan, bahwa tidak boleh melakukan pemecatan terhadap pekerja dalam keadaan sakit.

“Klien saya ini mengalami sakit selama beberapa hari, terus mengalami juga pemecatan sepihak. Jelas, ini melanggar Undang-undang Ketenagakerjaan. Dan, kami menempuh jalur hukum atas apa yang dilakukan Bos Bengkel Sahabat itu,” ujar dia.

Ia menambahkan, menurut pasal 153 ayat 1 huruf a Undang-Undang Ketenagakerjaan, disebutkan bahwa pengusaha dilarang melakukan PHK terhadap pekerja karena sakit terus-menerus selama tidak melampaui 12 bulan apabila dilakukan maka PHK batal demi hukum.

Seharusnya, menurut Edi, ketika pekerja sakit sebagaimana dalam pasal 93 ayat 2 perusahaan memiliki kewajiban sebagaimana diatur dalam pasal 93 ayat 3 yakni perusahaan tetap membayar upah kepada pekerja untuk 4 bulan pertama 100 persen, 4 bulan kedua 75 persen, 4 bulan ketiga 50 persen, dan untuk bulan selanjutnya dibayar 25 persen dari upah sebelum PHK dilakukan oleh pengusaha.

“Apabila perusahan melanggar ketentuan yang diatur dalam pasal 93 ayat 2, maka dikenakan sanksi pidana dan sebagaimana dalam pasal 186 ayat 1 dengan penjara paling singkat 1 bulan dan paling lama 4 (empat) tahun dan denda paling sedikir Rp 10 juta rupiah dan paling banyak Rp 100 juta rupiah,” tegasnya.

Dalam kondisi lain, ditambahkannya kembali, Undang-Undang Ketenagakerjaan sendiri PHK dapat dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja disebabkan beberapa hal antara lain : PHK karena kesalahan berat ( pasal 158 ayat 3), PHK karena pekerja ditahan oleh pihak yang berwajib (Pasal 160 ayat 1), PHK karena mangkir (pasal 162), PHK karena perusahaan tutup (pasal 164 ayat 1), PHK karena melanggar peraturan perusahaan, dan PHK karena putusan bersalah oleh pengadilan (pasal 160 ayat 7).

“Lalu bagaimana dengan pekerja yang di PHK karena sakit selama beberapa hari, menurut pasal 93 ayat 2 pengusaha tetap wajib membayar upah apabila pekerja sakit sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan,” tandas Edi.

“Persoalan PHK terhadap Pekerja oleh perusahaan memang menjadi momok bagi pekerja sendiri, pasalnya ketika PHK dilakukan oleh perusahaan seorang pekerja tidak dapat lagi berkerja tentu akan berimbas pada pemenuhan kebutuhan hidup keluarga, serta masa depan anak2 nya,” terang dia.

“Padahal hak memperoleh pekerjaan merupakan hak konstitusional bagi warga negara hal ini di tegaskan dalam pasal 27 ayat 2 UUD 1949 bahwa setiap warga negara berhak  atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Kemudian ditegaskan kembali dalam pasal 5 dan 6 Undang-Undang No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan,” tegas Edi.

Untuk diketahui, Supriyono sendiri sudah bekerja di Bengkel Bubut Sahabat milih H. Adi Sriono sejak tahun 2004. Ia diketahui sakit Asam Urat mulai Senin (29/10/2018) saat masih bekerja, sehingga memutuskan untuk pulang dan dirawat di Rumah Sakit Marsudi Waluyo dengan biaya sendiri, karena tidak memiliki BPJS yang semestinya menjadi tanggungjawab pemberi kerja.

“Dalam kondisi sedang sakit Asam Urat yang terbilang kronis, Supriyono mendengar kabar dari temannya bahwa ia telah di PHK. Dalam hal ini, juga tidak ada pembicaraan mengenai perhitungan pesangon,” jelas Advokat muda ini.

Di sisi lain, Kasat Reskrim Polres Malang Kota, AKP Komang Yogi Arya Wiguna, membenarkan adanya perkara tersebut dan masih didalami oleh pihak penyidik. “Masih saya cek dulu untuk perkembangannya,” singkat dia.(Put)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed