JAKARTA – Di tengah derasnya arus digital yang mengubah cara anak-anak belajar, bermain, dan berkarya, satu nama terus konsisten memperjuangkan lahirnya konten berkualitas bagi generasi muda Indonesia. Ia adalah Maria Elizabeth, atau yang lebih dikenal sebagai Liza Maria, sosok di balik berbagai program anak yang pernah mewarnai layar kaca nasional.
Lebih dari 30 tahun mengabdikan diri di industri penyiaran televisi, Liza kini mengemban misi yang lebih besar: membangun generasi kreatif Indonesia yang mampu menjadi kreator, sutradara, produser, animator, hingga inovator yang dapat bersaing di tingkat dunia.
Dedikasi panjang tersebut kembali mendapat pengakuan internasional. Liza dipercaya sebagai Assistant Board of Indonesia dalam ajang Southeast Asia Video Festival for Children (SEAVFC) atau Festival Video Anak ASEAN. Sebelumnya, ia juga telah tiga kali dipercaya sebagai Dewan Juri SEAVFC, masing-masing pada penyelenggaraan di Filipina (2018), Malaysia (2024), dan Thailand (2025).
Kepercayaan itu bukan tanpa alasan. Rekam jejaknya di industri televisi nasional menjadi modal utama dalam menilai karya-karya terbaik anak-anak ASEAN sekaligus membimbing lahirnya talenta-talenta kreatif baru dari Indonesia.
“Latar belakang saya memang dunia media televisi. Saya bekerja di SCTV, TV7, Trans7 hingga Rajawali Televisi selama lebih dari 30 tahun. Selama itu pula saya banyak memproduksi program-program berbasis video. Mungkin pengalaman itulah yang membuat saya dipercaya menjadi juri sekaligus memiliki kepedulian terhadap dunia anak,” ujar Liza.
Menurutnya, proses pemilihan dewan juri dilakukan secara ketat dengan mempertimbangkan pengalaman profesional, integritas, kompetensi, serta kontribusi nyata terhadap pengembangan konten yang ramah anak di kawasan ASEAN.
Menghidupkan Dunia Anak Lewat Layar Kaca
Perjalanan Liza dalam dunia program anak dimulai sejak awal 2000-an. Salah satu karya yang menjadi tonggak kariernya adalah sinetron drama musikal “Amelia” yang tayang di RCTI pada 2003. Mengangkat lagu-lagu karya maestro musik anak A.T. Mahmud, sinetron tersebut berhasil meraih penghargaan Sinetron Anak Terpuji pada Festival Film Bandung.
Kesuksesan itu berlanjut ketika ia bergabung dengan Rajawali Televisi. Di sana, Liza menghadirkan program Pesta Sahabat dan Dubidubidam, dua tayangan yang turut mengantarkan stasiun televisi tersebut meraih tiga penghargaan Anugerah Anak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk kategori Program Anak Terbaik.
“Sejak dulu saya memang ingin menghadirkan tayangan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mampu membangun karakter, kreativitas, dan rasa percaya diri anak-anak Indonesia,” tuturnya.
Era Digital Harus Melahirkan Generasi Berkarya
Bagi Liza, kemajuan teknologi digital seharusnya menjadi momentum emas bagi anak-anak Indonesia untuk menghasilkan karya, bukan sekadar menjadi penonton atau konsumen media sosial.
Menurutnya, saat ini anak-anak memiliki kesempatan mempelajari berbagai keterampilan kreatif, mulai dari menulis naskah, fotografi, videografi, editing, hingga produksi film pendek hanya dengan memanfaatkan perangkat digital yang mereka miliki.
Namun, ia mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi harus dibarengi dengan pendidikan karakter agar karya yang lahir tidak hanya mengejar popularitas.
“Anak-anak sekarang luar biasa karena didukung teknologi dan digitalisasi. Yang harus kita lakukan adalah mengarahkan mereka agar menghasilkan karya yang punya nilai positif. Jangan sekadar membuat konten untuk viral, tetapi membuat karya yang memiliki pesan, manfaat, dan bisa menjadi kebanggaan,” tegasnya.
Liza meyakini bahwa sebuah video berdurasi lima hingga sepuluh menit pun dapat memberikan dampak besar apabila dibangun melalui cerita yang kuat, kreativitas yang tinggi, dan pesan yang menginspirasi.
Melalui SEAVFC, karya-karya terbaik anak Indonesia bahkan memiliki peluang untuk tampil dan bersaing di tingkat regional ASEAN.
“Kalau cerita mereka bagus, penyajiannya kreatif, dan memiliki nilai, itu bisa menjadi prestasi besar. Anak-anak tidak hanya menjadi pembuat konten, tetapi juga belajar menjadi storyteller yang mampu membawa nama Indonesia di forum internasional,” katanya.
Hari Anak Nasional 2026: Saatnya Semua Pihak Bergerak
Bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional 2026, Liza mengajak seluruh anak Indonesia untuk berani bermimpi dan terus mengembangkan kemampuan kreatifnya.
Menurutnya, keterampilan seperti menulis, membuat film pendek, fotografi, editing, hingga public speaking akan menjadi bekal penting dalam menghadapi dunia kerja masa depan yang semakin kompetitif.
“Jangan takut untuk berkreasi. Berani berkembang, berani menyampaikan ide, dan terus mengasah kemampuan. Semua keterampilan itu akan menjadi modal penting di masa depan,” ujarnya.
Liza menegaskan, keberhasilan membangun generasi kreatif tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Orang tua, pemerintah, media, komunitas, hingga seluruh pemangku kepentingan harus bergandengan tangan menciptakan ekosistem yang mampu mendukung tumbuhnya kreativitas anak Indonesia.
Ia juga berharap perhatian terhadap pengembangan talenta tidak hanya terpusat di kota-kota besar.
“Indonesia bukan hanya Jakarta. Anak-anak di kota kecil, daerah terpencil, hingga Indonesia Timur memiliki mimpi dan potensi yang sama besarnya. Mereka hanya membutuhkan kesempatan, pendampingan, dan ruang untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya,” ungkapnya.
Menurut Liza, proses mencetak kreator hebat tidak berbeda dengan membina atlet nasional. Dibutuhkan pembinaan yang berkesinambungan agar lahir generasi yang kelak mampu menjadi sutradara, produser, animator, kreator digital, hingga inovator yang tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
Melalui perannya sebagai Assistant Board of Indonesia dan pengalaman tiga kali menjadi dewan juri SEAVFC, Liza optimistis Indonesia akan melahirkan lebih banyak talenta muda yang mampu mengharumkan nama bangsa di panggung internasional.
“Kalau kita serius membina mereka sejak sekarang, saya yakin akan lahir lebih banyak anak Indonesia yang bukan hanya berprestasi di tingkat nasional, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional. Mereka nantinya bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui kreativitas yang mereka miliki,” pungkasnya.*















