oleh

Usai Hajatan di Kabupaten Madiun 91 Orang Jalani Swab Antigen, 66 Orang Postif Covid-19

MADIUN – Sejumlah petugas terkait akhirnya menyemprotkan cairan disinfektan di dua kawasan pemukiman penduduk masuk wilayah rukun tetangga (RT) yakni RT 25 dan 26 Dusun Bulurejo, Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Tidak hanya itu, petugas bersama masyarakat setempat juga melakukan penutupan jalan alternatif atau wilayah (Lockdown) yang merupakan akses keluar masuk penduduk yang tinggal di dua RT tersebut. Setiap warga tak dikenal yang memasuki wilayah itupun, tidak luput dari pemeriksaan petugas posko sesuai dengan standart protokol kesehatan (Prokes) tentang virus corona atau Covid-19.

Langkah antisipasi ini, dilakukan petugas posko menyusul adanya 5 orang warga Dusun Bulurejo yang dilarikan ke rumah sakit (RS) di Kabupaten Madiun mengalami sesak nafas disertai batuk pilek berkepanjangan. Ternyata 5 orang yang menjalani perawatan serius di RS, itu merupakan dari total 66 orang warga yang dinyatakan tim medis Puskesmas Mojopurno, Kecamatan Wungu positif Covid-19 dengan dibuktikan hasil swab antigen.

Sedangkan sisanya sebanyak 61 orang warga yang juga mengalami keluhan batuk pilek, dilakukan perawatan intensif serta dalam pengawasan tim medis dengan cara isolasi mandiri (Isoman) di rumahnya masing-masing. “Dari jumlah pemohon 91 orang menjalani test swab antigen, 66 orang dinyatakan positif Covid-19. Namun karena 5 warga saya ini mengalami sesak nafas dan batuk pilek, akhirnya dilarikan ke RS untuk menjalani perawatan intensif,” kata Hartono, kades Bantengan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun saat dihubungi, Minggu 13 Juni 2021.

Menurut dia sebanyak 91 warga yang menjalani test swab antigen atau 66 orang terpapar Covid-19 ini, mengaku sebelum mengalami sesak nafas dan batuk pilek pada tanggal 2 Juni 2021 lalu pernah menghadiri hajatan mantu/pernikahan atas undangan tetangganya. Namun setelah itu atau selang waktu 4-6 hari lalu, mereka merasakan tidak enak badan yang disertai batuk pilek bahkan ada yang pernafasannya terganggu.

Karena merasakan ada keluhan kesehatan ditengah pandemi Covid-19, mereka pada tanggal 10 Juni 2021 melaporkan ke pihak Pemerintah Desa Bantengan dengan ditindaklanjuti ke bidan desa setempat. Hasil koordinasi dengan berbagai pihak, Sabtu 12 Juni 2021 lalu—akhirnya sebanyak 91 warga dilakukan test swab antigen. Padahal sebelum pelaksanaan hajatan mantu itu, pihak gugus tugas Covid-19 Desa Bantengan telah melakukan pengecekan lokasi.

Bahkan sesuai instruksi sebelum menggelar hajatan, dinyatakan memenuhi syarat disiplin Prokes Covid-19 seperti pihak penyelenggara menyediakan tempat cuci tangan, hand sanitizer serta cek suhu badan dengan alat thermogun juga termasuk setiap orang wajib memakai masker. “Termasuk dihimbau atau instruksi kepada penyelenggara hajatan agar tamu undangan yang merupakan mayoritas warga (Rt 25 dan 26) sini, dibagi tiga gelombang dan waktu yang berbeda dengan kapasitas masing-masing 50 orang,” jelasnya.

Informasi yang diperoleh, lanjut Hartono, penyelenggara pada saat gelaran hajatan mantu sejak pagi hari hanya memberikan bingkisan berisi makanan kepada setiap tamunya yang hadir. Namun saat dirinya hadir dalam hajatan mantu warganya itu, telah tersedia hidangan makanan dengan cara suguhan prasmanan.

Namun makanan itu, telah disuguhkan prasmanan sejak pukul berapa? Ia mengaku tidak tahu persis. Karena pada saat hadir dilokasi hajatan, suguhan makanan itu dalam proses diringkesi (bahasa jawa) atau diberesin oleh sejumlah warga yang pada saat itu tengah membantu acara tersebut.

“Apakah pada saat mengambil hidangan makanan itu, ada celah pelanggaran Prokes Covid-19? Saya sendiri tidak menyaksikan langsung pada saat para tamu undangan itu, hadir. Karena, saya sendiri datang ke lokasi hajatan pada malam hari sekitar pukul 20:00 WIB,” ungkapnya.

Ia menambahkan meski pihaknya telah menginstruksikan kepada penyelenggara hajatan mantu, agar tamu yang hadir dibagi tiga gelobang? Namun jajaran perangkat desa setempat, tidak berjam-jam menunggu atau melakukan pemantauan dilokasi. Tetapi sepengetahuan dirinya, bahwa meja dan kursi untuk tamu yang hadir dibuat berjauhan atau menjaga jarak.

“Tapi saya tidak tahu persis ya.., apakah ada tamu dari luar desa yang hadir atau tidak?. Kalau dengar-dengar dari sejumlah warga sini, ada tamu dari teman-temannya mempelai pria yang hadir dari luar desa sini (Bantengan). Mengingat mempelai pria adalah alumni dari salahsatu universitas di Yogyakarta. Apakah tamu-tamu tersebut, diperiksa atau membawa surat keterangan bebas Covid-19, saya juga tidak tahu persis.. Maaf ya,…mas… (kepada jurnalis dimensinews saat mengakhiri pembicaraannya melalui pesawat telpon),” ujarnya.*(ajun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

News Feed