Lima Visi Yang Akan Dikembangkan Ketum PWI Dalam Menghadapi Jurnalis  Era Digital 

  • Bagikan

Ket Photo : Ketum PWI Pusat usai pelantikan di halaman gedung dewan pers jakarta

 

DimensiNews.co.id JAKARTA – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat masa bakti 2018-2023, Atal S. Depari, berkomitmen melakukan berbagai terobosan untuk menjadikan PWI sebagai organisasi profesional dan bermartabat, dengan semangat kebangsaan, kebebasan, dan kreativitas digital.

“Kita wujudkan PWI ‘Jaman Now’ yang profesional dan mampu beradaptasi menghadapi perkembangan jurnalistik di era serba digital saat ini,” kata Atal saat mengukuhkan pengurus PWI Pusat periode 2018-2023 di Hall Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat, Rabu (31/10/2018).

Atal terpilih sebagai ketua umum dalam Kongres XXIV PWI di Solo, 27-30 September 2018, menggantikan Margiono yang telah memimpin PWI selama dua periode. Selain Ketua Umum, kongres ketika itu juga memilih Ketua Dewan Kehormatan PWI Ilham Bintang.

Menurut Atal, visi tersebut dijadikan arah dan pedoman bagi lima misi PWI yang ada, yakni Program pendidikan berbasis teknologi digital, Perbaikan manajemen dan administrasi berbasis teknologi digital, Gerakan nasional wartawan masuk kampus, Meningkatkan peran pengurus pusat dalam penyelesaian masalah di daerah, “Dan PWI sebagai inisiator dan stakeholder perumusan regulasi media baru,” kata Atal.

BACA JUGA :   BPJAMSOSTEK Gandeng LinkAja, BPJAMSOTEK Beri Kemudahan Pendaftaran dan Pembayaran Iuran

Atal juga mengungkapkan, jumlah anggota PWI seluruh Indonesia pada saat ini sekitar 15.000 orang, sebanyak 9.480 sudah memiliki kompetensi wartawan berbagai jenjang. 3000 di antaranya sudah tersentuh pendidikan profesi, baik melalui safari jurnalistik, pra UKW, Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI).

UKW dan SJI lanjut dia, telah berjalan dengan baik, akan tetapi faktanya belum memenuhi harapan bagi semua wartawan anggota PWI. “Masih banyak anggota PWI yang belum tersentuh pendidikan profesi wartawan yang standar. Sebagian besar melewati proses ‘Learning by doing’,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Atal, PWI akan membuat program dan strategi meningkatkan SDM melalui program pendidikan dan pelatihan jurnalistik serta non-jurnalistik, berbasis digital.

Selain itu pemanfaatan penggunaan teknologi digital akan dimaksimalkan untuk pendataan anggota dan kegiatan organisasi. Dengan “PWI Apps”, dengan harapan PWI ke depan akan berada dalam genggaman ponsel cerdas.

BACA JUGA :   Arief Apresiasi Bantuan Penanganan Covid-19 dari Koperasi Satya Karya

PWI Command Centre

Sementara untuk memperlancar urusan pusat dan daerah, Atal berjanji akan memfasilitasi dengan platform “PWI Command Centre” yang merupakan manajemen terpusat PWI daerah dan pusat. Dengan platform ini, seluruh administrasi dan manajemen dan informasi daerah dapat dipantau melalui satu sistem.

“Hal ini dapat memudahkan PWI dalam memantau seluruh pengurus dan anggota PWI dari Sabang sampai Merauke,” tandas Atal optimis.

Sedangkan untuk meningkatkan peran pengurus pusat dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di daerah, disiapkan satu platform digital secara khusus sehingga semua informasi dari anggota ke pengurus dan sebaliknya diketahui secara realtime.

Hal ini diharapkan dapat membuat semua pengurus lebih proaktif untuk merespon semua masalah sesuai dengan tanggungjawabnya masing-masing.

Berikutya Program Gerakan Wartawan Masuk Kampus (Journalist Goes to Campus) PWI akan bekerja sama dengan kampus-kampus ternama untuk menyelenggarakan pelatihan, dialog tentang jurnalisme, komunikasi massa, atau pun media baru yang kini terus berkembang.

BACA JUGA :   Meski Tambang Ilegal, Pemanfaatan Galian C Wajib Bayar Pajak

Selain itu di era media sosial dewasa ini, PWI akan mendekatkan diri kepada para netizen generasi melenial, untuk berbagai pengetahuan dan ketrampilan, serta bersama-sama memerangi hoax dan fake news.

Peluang dan Ancaman

Yang tak kalah penting adalah program dan strategi Menjadi Inisiator dan Stakeholder Perumusan Media Baru. Sebab revolusi digital telah melahirkan fenomena media baru, baik media sosial, mesin pencari, e-commerce.

Di sisi lain, perkembangan media baru telah menimbulkan ancaman terhadap media konvensional atau media mainstream. Selain itu juga menimbulkan masalah baru seperti persoalan hoax.

“Oleh karena itu perlu regulasi-regulasi baru untuk menyelamatkan institusi jurnalistik dan ruang publik yang beradab,” pungkasnya.

 

 

 

Laporan Wartawan : Hery/Hasanudin

Editor .                       :Red DN

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.