“Sebagai pengajar dan pendidik, kita harus memotivasi para mahasiswa sehingga bisa terjemahkan dan sesuaikan apa yang mereka dapatkan selama masa pendidikan dengan situasi masyarakat yang terus berubah. Mereka harus bisa punya growth mindset (pola pikir bertumbuh), bukan lagi fixed mindset (pola pikir tetap). Dalam dunia sekarang, apa yang tidak mungkin bisa jadi mungkin,” jelas Wagub.
Lebih lanjut, Nae Soi meminta pihak Yayasan untuk dapat meningkatkan kualifikasi pendidikan tenaga pengajar. Tawaran beasiswa dari pemerintah, kementerian ataupun lembaga non pemerintah dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya daya manusia para dosen.
“Gedung kita bisa cari. Begitupun dengan fasilitas lainnya seperti komputer dan sarana pendidikan lainnya dapat kita upayakan, namun kualitas pengajar sangatlah penting. Agar mereka dapat terapkan proses didaktis metodik yang sesuai perkembangan zaman serta dapat mendampingi dan melakukan transfer pengetahuan, kemampuan dan perilaku kepada para mahasiswa secara lebih baik,” jelas Wagub.
Sebagai kampus yang terletak pada posisi strategis di Jalur Utama Kota Kupang, Nae Soi minta STIE Oemathonis dapat lakukan lompatan dan improvisasi yang besar dalam mendukung pengembangan sumberdaya manusia NTT yang berkualitas.
“Pemerintah NTT tentu memberikan dukungan sesuai dengan kemampuan yang ada untuk proses pengembangan sumberdaya manusia di semua perguruan tinggi yang ada. Kami juga bersedia menfasilitasi perguruan tinggi dalam koordinasi dengan pemerintah pusat agar proses pendidikan dapat berjalan dengan baik,” kata Wagub Nae Soi.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua STIE Oemathonis, Antonius Ugak mengungkapkan, lembaga pendidikan tinggi tersebut siap mendukung setiap program pemerintah provinsi.
Dijelaskannya, sejak didirikan STIE telah menamatkan 2.105 alumni yang bekerja di dalam dan luar negeri dari dua jurusan yakni akuntansi dan manajemen. Jumlah mahasiswa saat ini mencapai 528 orang dengan tenaga dosen sebanyak 17 orang.
“Salah satu alumni kami bekerja sebagai kepala akuntansi di Ghana. Kami berterima kasih karena setiap tahun kami mendapatkan bantuan dari pemerintah provinsi untuk peningkatan sarana sebanyak Rp 20 juta. Juga setiap tahun ada sekitar 13 orang mahasiswa yang mendapat beasiswa dari pemerintah provinsi. Kami tetap mengharapkan dukungan dari pemerintah provinsi untuk pengembangan lembaga pendidikan ini ke depannya,” pungkas Anton.
(Yohanis)
















