by

Hanya Nama Panggung, Ternyata Ini Makna ‘Kempot’ dalam Nama Didi Kempot

DimensiNews.co.id, SOLO- Pelantun musik campursari Didi Kempot meninggal dunia di usia 53 tahun. Ia diduga terkena serangan jantung akibat terlalu banyak aktivitas.

Berkat perjuangannya yang selalu konsisten dan tak kenal lelah dalam mengenalkan musik campursari kepada masyarakat luas, kini ia dikenal sebagai legenda campursari Indonesia.

Selain penyanyi, ia juga penulis lagu-lagu campursari. Karya-karyanya tak akan lekang oleh zaman, nikmat didengarkan mulai dari orangtua hingga anak-anak muda.

Sang maestro lagu-lagu campursari ini bahkan dijuluki ‘The Godfather of Broken Heart’ karena lagu-lagu yang ia ciptakan diiringi musik dan lirik patah hati. Setiap karyanya mampu menghipnotis para pendengar hingga penggemarnya pun semakin banyak tak dibatasi usia.

Namun, di tengah gemilang kesuksesannya yang saat ini terlihat tentu tak diperoleh secara instan. Sebelum terkenal seperti sekarang, pemilik nama lengkap Dionisius Prasetyo ini memulai karier bermusik dari nol. Perjalanan karirnya pun tak selalu mulus.

Kisah tersebut rupanya diabadikan dalam namanya. Nama Kempot yang tersemat dalam nama panggungnya adalah singkatan dari Kelompok Penyanyi Trotoar, sebuah grup musik yang jadi pijakan berkarir Didi dalam bermusik.

“Sebelum saya masuk ke dunia rekaman, saya sempat jadi penyanyi jalanan alias Kempot, Kelompok Penyanyi Trotoar,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (10/3/2020).

Tak dinyana, nama tersebut justru menjadi keberkahan baginya hingga dikenal sebagai maestro tembang-tembang campursari.

Hingga saat ini, ia telah melahirkan banyak karya yang tertuang dalam puluhan album bagi penikmat musik tanah air. Sepanjang perjalanan karirnya, ia telah menulis lebih dari 700 judul lagu.

Beberapa tahun belakangan, lagu-lagunya yang kerap memakai bahasa Jawa bahkan didengarkan oleh anak-anak muda di seluruh penjuru tanah air. Akibatnya, para penggemar Didi Kempot akhirnya punya sebutan baru yaitu Sobat Ambyar.

Didi Kempot juga kerap menggunakan nama-nama tempat di dalam lagu-lagunya, di antaranya adalah Parangtritis, Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, Tanjung Mas Ninggal Janji, hingga Ademe Kutho Malang. (red)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed