by

Caleg DPRD Indramayu Tidak Dikenal Warganya, Partai Gerindra Harus Evaluasi Kadernya

DIMENSINEWS.CO.ID – INDRAMAYU –

Pemilihan Umum Legislatif 2019 semakin dekat. Masyarakat Indonesia sudah mulai disuguhi pemandangan berupa foto-foto para calon anggota DPRD maupun DPRRI dengan slogan tebar pesona dan janji-janji manis para calon melalui spanduk serta baliho-baliho besar yang menghiasi area-area strategis.

Namun ada yang menarik dengan situasi tahun politik di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Pasalnya, tidak banyak masyarakat di kawasan tersebut yang tidak mengenal para calon wakil mereka. Parahnya, ada sebagian warga yang lebih mengenal Caleg dari latar belakang negatif keluarga ataupun kerabat mereka.

Sebagai fungsi kontrol sosial, wartawan mencoba melakukan penelusuran kepada masyarakat dengan beberapa kejadian yang menarik di tengah masyarakat Indramayu, khususnya Daerah Pemilihan Tiga (Dapil III) yang meliputi 7 Kecamatan yaitu Jatibarang, Widasari, Sliyeg, Bangodua, dan Sukagumiwang di kabupaten yang terkenal dengan buah mangga tersebut.

Dari penelurusan di beberapa kecamatan, tim menemukan hal-hal aneh. Terutama di Kecamatan Sukagumiwang. Pasalnya, ada salah satu Caleg DPRD Dapil III yang tidak dikenal oleh warganya serta lebih dikenal dengan profesi suaminya yang pernah menjadi residivis kambuhan alias sering keluar masuk Hotel Prodeo.

Iis Naeni, S.IP, Caleg DPRD Dapil III yang bernomor urut 1 serta diusung oleh Partai Gerindra tersebut sebelumnya sudah menjabat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Indramayu Periode 2014 – 2019 dan kini mencalonkan lagi untuk Periode 2019 – 2024.

Namun, dari pengakuan warga yang konfirmasi wartawan secara acak banyak sekali statmen negatif serta banyak yang tidak mengenal dan merasakan dampak dari kinerjanya sebagai penyambung aspirasi mereka.

Sarijan (46), warga Desa Gedangan, Kecamatan Sukagumiwang yang mengaku tidak pernah mengenal sama sekali dengan Iis Naeni. Menurutnya, selama ini dirinya tidak pernah melihat atau mendengar nama itu meskipun jarak antara desanya dengan kediamaan Iis hanya berjarak beberapa kilo meter.

“Kita ini orang desa, mana kenal dengan yang katanya pejabat itu. Kami cuma mengenal RT dan pejabat kelurahan saja.” Kata Sarijan pada Minggu (16/12).

Hal senada juga disampaikan Nunik (36) warga , dirinya pernah mendengar nama Caleg tersebut. Namun Nunik tidak pernah bertemu atau melihat secara langsung sosoknya sebagai wakil mereka di DPRD Indramayu. “Ya dengar namanya sih pernah mas, tapi saya ngga tau orangnya. Katanya sih anggota dewan, tapi kami ngga merasa memilih dia.” Tutur ibu rumah tangga di hari yang sama.

Berbeda dengan yang disampaikan Bowo (43), warga Desa Gunungsari ini mengaku mengenal Iis Naeni. Tetapi tidak sebagai anggota DPRD Kabupaten Indramayu, melainkan sebagai istri dari temannya yang tidak lain adalah seorang residivis kambuhan yang pernah keluar masuk penjara karena melakukan kejahatan di Jakarta. “Ooo iya, dia itu bojone Cempe, dia merantau di Jakarta. Katanya sih di penjara, tapi denger-denger dia udah keluar.” Kata Bowo kepada wartawan.

Namun sayang, ketika hendak dikonfirmasi tentang hasil penelusuran informasi di masyarakat, Iis Naini tidak berada di kediamannya. Menurut informasi dari tetangga dekatnya, dirinya sedang melakukan kunjungan kerja di Bali bersama suaminya.

Menaggapi hal tersebut, aktivis dan pengacara Adhitya Wira Immanuel mengomentari hal tersebut. Menurutnya, sangat ironis apabila sosok wakil rakyat yang menjadi penyambung aspirasi mereka, tetapi justru masyarakat tidak mengenal secara figur atau personal wakil rakyat itu sendiri.

“Ironis kalau masyarakat tidak mengenali bagaimana sosok wakil mereka di kursi DPRD. Berarti selama ini mereka tidak ada upaya untuk melakukan sosialisasi maupun pendekatan secara emosional terhadap masyarakat yang mereka wakili.” Kata Adhit, pengacara muda yang juga aktif sebagai aktivis sosial saat ditemui di kantornya pada Selasa (18/12).

Adhitya menambahkan, bahwa partai yang mengusung Calon Legislatif harus mengevaluasi kembali para kadernya yang nantinya akan menduduki kursi dewan terhormat itu.

“Seharusnya dalam hal ini partai yang mengusung Caleg itu harus benar-benar melakukan seleksi dan mengevaluasi para calon-calon wakilnya di parlemen nantinya. Latar belakang kehidupan dan kualitas bermasyarakat mereka juga harus menjadi pertimbangan,” tutup Adhitya. (HP/RS)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed