YOGYAKARTA – Gelombang penolakan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat setelah rentetan kasus keracunan menimpa siswa di berbagai daerah. Puluhan ibu-ibu di Yogyakarta turun ke jalan, Jumat (3/10/2025) sore, dalam aksi bertajuk “Kenduri Suara Ibu Indonesia #2” di Bundaran UGM, Sleman.
Aksi ini digelar menyusul insiden terbaru di Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT, di mana puluhan siswa SD mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan MBG. Kasus serupa juga terjadi di Purworejo, Jawa Tengah, menimpa 127 siswa SMAN 3 dan SMPN 8 yang mengalami mual, pusing, hingga muntah setelah menyantap hidangan MBG pada Jumat (3/10) pagi.
Sementara di Gunungkidul, DIY, enam siswa SD di Piyaman harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami gejala serupa. Dandim 0730/Gunungkidul, Letkol Inf Roni Hermawan, menegaskan perlunya pemeriksaan sampel makanan untuk memastikan penyebab keracunan.
Ibu-Ibu Geruduk Jalan, Bawa Bekal Sendiri
Dalam aksi di Yogyakarta, para ibu-ibu membawa rantang berisi bekal makanan yang mereka anggap sehat, lalu membagikannya kepada peserta aksi. Mereka juga memukul peralatan dapur hingga menghasilkan suara nyaring sebagai simbol protes.
Diskusi publik digelar di lokasi dengan menghadirkan pegiat pangan lokal, peneliti politik pangan, hingga aktivis antikorupsi. Kritik utama ditujukan pada penggunaan bahan pangan ultra-processed food (UPF) dalam menu MBG, yang dianggap memicu kasus keracunan berulang.
“Ibu-ibu mau anaknya dikasih makan, tapi jangan pakai bahan murahan. Giliran keracunan spaghetti, alasannya anak-anak belum terbiasa,” sindir penulis-aktivis Kalis Mardiasih.
Kritik Keras: “Stop Makan Beracun Gratis!”
Seruan keras “Stop Makan Beracun Gratis!” menggema dari peserta aksi. Seniman Siti Fauziah Saekhoni—yang populer lewat perannya sebagai Bu Tejo dalam film Tilik—ikut hadir dan melontarkan kritik tajam.
“Ini bukan sekadar soal nyawa, tapi hak dasar sebagai manusia. Pemerintah jangan abai. Kalau mau jujur, program ini seperti proyek mencari keuntungan dengan mengorbankan anak-anak,” tegas Siti.
Ia menilai evaluasi total merupakan langkah wajib, bukan sekadar perbaikan teknis. “Coba kalau makanan MBG ini setiap hari dikonsumsi bapak-bapak pejabat dulu, baru dikasih ke rakyat. Pasti keracunannya diminimalisir di bapak dulu,” sindirnya.
Kritik untuk Presiden Prabowo
Kalis Mardiasih juga menyoroti instruksi Presiden Prabowo Subianto yang merespons kasus ini dengan menyewa koki dan memasang CCTV di dapur MBG. Menurutnya, langkah tersebut tidak menyentuh akar persoalan.
“Yang kita kritik adalah desain tata kelola MBG yang terlalu sentralistik dan militeristik. Bukannya memperkuat komunitas lokal, justru menggandeng korporasi besar,” ujarnya.
Kalis mencontohkan, susu yang disajikan berbentuk kemasan kotak pabrik, sementara menu seperti burger bergantung pada impor gandum. “Petani mana yang bisa menanam gandum?” tanyanya retoris.
Desakan: Evaluasi Total atau Hentikan
Para ibu-ibu menegaskan bahwa program MBG tidak bisa dibiarkan berjalan sambil “memperbaiki sambil jalan” karena risikonya langsung dirasakan anak-anak.
“Program ini harus dihentikan, atau minimal dievaluasi total sebelum dilanjutkan. Jangan sampai anak-anak terus jadi korban keracunan,” tutup Kalis.*
















