Dugaan Bullying Guru di Purwakarta, Disdik Jabar Didesak Turun Tangan

  • Bagikan

PURWAKARTA– Dugaan kasus bullying yang melibatkan pelajar terhadap guru di SMAN 1 Purwakarta menuai sorotan luas dari berbagai kalangan, termasuk alumni. Peristiwa ini dinilai sebagai alarm serius bagi dunia pendidikan, khususnya terkait implementasi pendidikan karakter di Jawa Barat.

Sejumlah pihak menilai insiden tersebut bukan sekadar pelanggaran disiplin, melainkan cerminan lemahnya penanaman nilai etika di lingkungan sekolah. Program Panca Waluya yang selama ini digaungkan—meliputi nilai cageur, bageur, bener, pinter, dan singer—dipertanyakan efektivitasnya dalam membentuk karakter peserta didik.

Alumni SMAN 1 Purwakarta angkatan 1983, Agus M Yasin, menyebut kejadian ini sebagai yang pertama sepanjang sejarah sekolah tersebut berdiri. Ia menilai hal ini sebagai indikasi kegagalan dalam implementasi pendidikan karakter.

BACA JUGA :   Bidhumas Polda Jatim Gelar Pelatihan Peningkatan Kemampuan Public Speaking

“Bagaimana nilai ‘bener’ dan ‘bageur’ bisa tertanam jika siswa justru berani merendahkan guru, yang seharusnya dihormati,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).

Agus menegaskan bahwa kasus ini mencerminkan persoalan yang lebih mendasar, mulai dari lemahnya pembinaan karakter di sekolah, tidak konsistennya penegakan disiplin, hingga minimnya pengawasan dari pihak terkait.

Ia juga menyoroti sikap Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang dinilai belum menunjukkan langkah konkret dalam merespons kasus tersebut.

“Disdik Jabar tidak boleh hanya menjadi penonton. Ini saatnya bertindak, bukan sekadar mengamati,” tegasnya.

Menurutnya, diperlukan langkah cepat dan tegas, mulai dari investigasi menyeluruh terhadap kasus yang terjadi, evaluasi total implementasi program Panca Waluya di seluruh sekolah, hingga penegakan sanksi terhadap pihak-pihak yang terbukti melanggar.

BACA JUGA :   Anggota DPRD Kota Tangerang Khawatir Jika RKUD Dipindah Ke Bank Banten

Selain itu, Agus mendorong keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam memperkuat pendidikan karakter secara nyata, agar tidak hanya berhenti pada slogan.

“Jika dibiarkan, ini bisa menjadi krisis moral yang lebih luas. Sekolah kehilangan wibawa, guru kehilangan otoritas, dan siswa kehilangan arah,” tambahnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa tanda-tanda penurunan kualitas disiplin di sekolah tersebut sudah mulai terasa sejak beberapa tahun terakhir.

“Saya mengamati banyaknya desas-desus sejak 2024, dan akhirnya seperti bom waktu yang meledak tahun ini,” ungkapnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan pihak sekolah untuk kembali menegakkan disiplin secara konsisten, serta memperkuat pendidikan etika dan moral di lingkungan pendidikan guna mencegah kejadian serupa terulang.

BACA JUGA :   Peringatan Hari OTDA Ke XXVIII, Wabub Iyos Nilai Kinerja Pemkab Sukabumi Meningkat

Kasus ini menjadi perhatian publik sekaligus peringatan penting bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan agar lebih serius dalam membangun karakter generasi muda.*(AsBud)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses