oleh

Stok Menipis, Sejumlah Penjahit Difabel Bantu Buatkan APD untuk Tim Medis di Yogyakarta

DimensiNews.co.id, YOGYAKARTA-  Kekurangan Alat Pelindung Diri (APD) tengah menghantui para tenaga medis yang sedang berjuang melawan virus corona (Covid-19). Di tengah kesulitan ini, sejumlah penjahit difabel yang bergabung dalam Koperasi Simpan Pinjam Bank Difabel Ngaglik, berkejaran dengan waktu memproduksi baju pelindung untuk para tenaga medis.

Koperasi Simpan Pinjam Bank Difabel Ngaglik tengah mendapat order sebanyak 800 baju pelindung terbuat dari bahan spunbond yang biasa dipakai oleh tenaga medis. Sepuluh orang penjahit yang mayoritas penyandang tunadaksa itu bahu -membahu menyelesaikan baju pelindung yang dipesan oleh RS PKU Bantul, RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta, dan RS PKU Muhammadiyah Gamping.

“Untuk pembuatan alat pelindung diri ini dari kemarin, dua hari kemarin. Karena memang kebutuhannya juga mendesak. Tapi, saya minta maksimal dua minggu. Biar kita enak, rumah sakit juga terpenuhi, maka kita nanti berapa pun yang hari itu jadi, langsung kita kirim. Jadi, biar bisa langsung digunakan, tidak harus menunggu jadi,” ujar Iswanto, salah satu penjahit yang tergabung dalam Koperasi Simpan Pinjam Bank Ngaglik.

Iswanto menuturkan, saat menjahit harus ekstra hati hati karena sekali salah bahan tak lagi bisa dipakai. Selain itu, sambung Iswanto, pengerjaan alat medis berupa baju pelindung itu menggunakan standar pengerjaan yang tinggi.

“Saat mengerjakan harus pakai masker, penjahit juga tidak boleh berdekatan posisinya. Hasil kerja mereka dipantau langsung oleh pihak rumah sakit. Standarnya seperti apa dan sebagainya, sesuai standar mereka,” ucap Iswanto.

Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah, Ahmad Maruf mengatakan, APD yang dibuat oleh penjahit difabel ini tak dijualbelikan.

APD yang dibuat itu nantinya akan dipakai untuk mencukupi kebutuhan baju pelindung tenaga medis di RS PKU Muhammadiyah.

“APD ini tidak dijual. Sebatas kerjasama jasa, karena bahan baku sudah disediakan (PKU Muhammadiyah). Per baju yang jahit dapat upah Rp 25 ribu. Detailnya Rp 24 ribu untuk biaya produksi dan Rp 1.000 untuk koperasi,” tutur Ahmad. (Ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed