by

Hampir Setahun Kasus Pengeroyokan Belum Terungkap, Kinerja Polsek Tangerang Dipertanyakan

DimensiNews.co.id, KOTA TANGERANG – Sudah hampir satu tahun kasus perampasan disertai dengan pengeroyokan terhadap korban Anwar Wijayadi (AW) di Yayasan Amaryllis Kirana, Jl. A. Yani No.11, Kelurahan Sukaasih, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang pada Kamis, (06/06/2019) silam, hingga saat ini belum mendapati titik terang.

Kasus yang dilaporkan ke Polsek Tangerang, Polres Tangerang Kota dengan Nomor: LP/B/272/VI/2019/PMJ/Restro TNG Kota/Sektor TNG pada Minggu, 09 Juni 2019 silam hingga kini masih gelap dan terkesan ada yang ditutup-tutupi.

Dari keterangan AW sebagai korban, peristiwa berawal dari gesekan yang terjadi antara korban dengan Adam Fatur (AF) di media sosial (Medsos). Kemudian, korban didatangi AF bersama teman-temannya dengan mengendarai sepeda motor. “Mereka mendatangi saya di tempat yayasan saya bekerja bersama teman-temannya menggunakan sepeda motor. Karena terjadi perdebatan sehingga mereka menggeroyok saya,” kata AW kepada wartawan, Selasa (24/03/2020).

Korban yang sendirian dan terdesak kemudian mengambil sebilah pisau untuk menakut-nakuti AF dan kawan-kawannya agar segera pergi. Namun AF menelpon seseorang yang mana menurut informasi dia adalah oknum polisi untuk melakukan penangkapan, karena korban dianggap sebagai pelaku kriminal karena memegang pisau saat terjadi keributan.

Selang beberapa menit, datang 1 unit mobil Avanza warna hitam dan langsung menggeruduk korban (AW) serta dimasukkan ke dalam mobil oleh pria yang ditelpon (AF). “Mereka mengaku anggota polisi dan menyuruh saya masuk ke dalam mobil. Sedangkan sepeda motor saya dibawa AF dan teman-temannya,” terangnya.

“Saya diajak keliling oleh dua orang yang ada di dalam mobil Avanza hitam itu. Mereka interogasi saya dan memaksa untuk mengaku sebagai pengguna narkoba dengan terus memukuli saya. Bahkan saya juga disuruh ngaku yang melakukan tindak kriminal di pasar. Dalam keadaan takut, kemudian saya diturunkan di Terminal Kalideres. Semua harta benda saya hilang dibawa AF dan kawanannya,” tutur AW.

Ia menjelaskan, selain mengalami luka memar di wajah dan kepala, satu unit sepeda motor Yamaha R15 dengan Nopol  B 3884 CJN, 1 buah handphone, dompet beserta KTP, SIM, STNK, Kartu BPJS, Kartu Pelajar, dan uang tunai Rp 350.000. Sehingga diperkirakan AF mengalami kerugian materi hingga Rp. 30.000.000.

Sementara itu, Shem selaku orang tua AW menjelaskan bahwa kasus tersebut sudah dilaporkan dan ditangani oleh Unit Reskrim Polsek Tangerang Kota yang saat itu dijabat oleh Iptu Prapto Lasono, SH sebagai Kanit Reskrim, Thomas Sumihar sebagai Katim 3, Bripka Anton dan Brigadir Imam Suwongso sebagai anggota Tim 3, serta Kompol Ewo Samono, SH sebagai Kapolsek Tangerang kala itu. Namun, hingga sudah mengalami beberapa pergantian jajaran, kasus tersebut belum mendapat titik terang,

“Berdasarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) kedua yang dikirimkan penyidik kepada saya, para terlapor sudah menjalani pemeriksaan di Polsek Tangerang. Tetapi karena menurut mereka kurang cukup bukti dan saksi, sampai dengan hari ini belum ditahan. Padahal sudah jelas-jelas alurnya. Kenapa polisi terkesan ada keberpihakan. Sebenarnya yang mengaku oknum polisi itu siapa?, jelas Shem geram.

Shem berharap Kepolisian Sektor Tangerang serius dan profesional dalam mengungkap kasus tersebut. Karena menurutnya, polisi lamban dalam penanganan kasus yang sudah hampir 1 tahun itu. “Saya akan terus mencari keadilan untuk anak saya. Kalau tidak ada kejelasan dalam waktu dekat ini, saya akan dorong kasus ini ke Polres atau ke Polda Metro Jaya,” tegas Shem.

Terpisah, Kanit Reskrim Polsek Tangerang Iptu Suyoto kepada wartawan mengatakan, dirinya baru menjabat sebagai Kanit Reskrim di Polsek Tangerang. “Saya masih baru pak. Saya sudah tanyakan ke anggota dan sudah mendapatkan informasi bahwa kasus itu masih dalam pengembangan. Kurangnya saksi saat kejadian menjadi kendala dalam mengungkap kasus tersebut. Kita akan lakukan gelar perkara. Terserah mau di Polsek atau di Polres, biar transparan apa kendalanya,” jelas Iptu Suyoto.'(rn)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment

News Feed