JAKARTA — PSSI Menggandeng French Football Federation memperkuat kerja sama pengembangan sepak bola putri dengan fokus pada pembinaan usia dini, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta mendorong kesetaraan gender di dunia olahraga yang digelar di Institut Francais Indonesia (IFI) , French Embassy Jakarta, Rabu (15/04).
Perwakilan FFF, Ludovic Debru, menyebut tantangan pengembangan sepak bola wanita di Indonesia sejatinya tidak berbeda dengan negara lain, termasuk Prancis. Menurutnya, kunci utama bukan pada kesulitan, melainkan bagaimana memulai dan melibatkan lebih banyak perempuan sejak usia dini.
“Yang paling sulit adalah memulai. Tapi ketika sudah berjalan, hasil akan mengikuti,” ujar Ludovic.
Hal senada disampaikan Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, yang menilai pengembangan olahraga wanita merupakan isu global. Ia menekankan pentingnya membuka akses, meningkatkan kepercayaan diri, serta memperluas pengalaman internasional bagi atlet perempuan.
Anggota Exco PSSI, Vivin Cahyani, menjelaskan bahwa program ini terintegrasi dengan pembinaan grassroots yang telah berjalan melalui kompetisi seperti MilkLife Soccer Challenge dan HydroPlus. Dari program tersebut, PSSI telah mengantongi database sekitar 40 ribu pemain putri.
Sebagai bagian dari program, PSSI akan mengirim 28 delegasi Timnas Putri U-17 ke pusat pelatihan Clairefontaine, Prancis. Rombongan terdiri dari 20 pemain dan 8 ofisial yang merupakan hasil seleksi gabungan dari Timnas U-17 dan kompetisi grassroots.
“Mereka akan menjalani enam sesi latihan dan satu laga uji coba melawan tim akademi di sana,” jelas Vivin.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa kerja sama ini juga membuka peluang kolaborasi lebih luas, termasuk untuk sepak bola putra, terutama di level usia muda seperti U-17 dan U-20.
Namun, ia mengingatkan bahwa pemain muda harus membuktikan kualitasnya di dalam negeri terlebih dahulu sebelum berkarier di luar negeri. Aspek perlindungan pemain (safeguarding) juga menjadi perhatian penting agar tidak terjadi eksploitasi, termasuk praktik penipuan berkedok penyaluran ke klub luar negeri.
“Punya mimpi itu penting, tapi proses untuk mencapainya jauh lebih penting,” ujar Erick.
Melalui kerja sama jangka panjang ini, PSSI dan FFF berharap dapat menciptakan ekosistem sepak bola putri yang berkelanjutan, kompetitif, serta membuka lebih banyak peluang bagi perempuan Indonesia untuk berkembang di level nasional maupun internasional.*(Danang)
















