by

Perluasan Ganjil Genap, Pedagang Glodok Rugi Hingga 50 Persen

DimensiNews.co.id JAKARTA – Perluasan pemberlakukan pembatasan kendaraan dengan sistem Ganjil Genap merugikan pedagang di sentra bisnis Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Bahkan kerugiannya bisa mencapai 50 persen dari sebelum kebijakan tersebut diberlakukan.

“Kami para pedagang dan warga sekitar di sentra bisnis ini menyatakan sikap bahwa ganjil genap bukan solusi masalah polusi di Jakarta. Kami menyatakan sepakat menjadi pelopor untuk menghijaukan Jakarta. Maju kotanya, bahagia warganya…!” demikian pernyataan sikap warga dan ratusan pedagang yang disampaikan, di Pasar Hayam Wuruk Indah Lindeteves, Glodok, Jumat (30/08/2019).

Eka, salah seorang perwakilan pedagang Pasar Glodok mengatakan, sejak sosialisasi perluasan ganjil-genap yang dimulai pada 12 Agustus 2019 lalu, omset para pedagang menurun hingga 50 persen.

“Terus terang kami merasa amat sangat dirugikan karena keadaan sekarang udah sepi ditambah lagi ada ganjil-genap maka makin bertambah sepi. Dengan berkurangnya income, dikhawatirkan bisa berdampak domino,”ungkapnya.

Eka mencontohkan, kalau pendapatan menurun namun biaya operasional tetap, salah satu jalan untuk bertahan dengan mengurangi karyawan.

Untuk itu, Eka meminta Pemprov DKI  mengkaji kembali perluasan ganjil-genap di kawasan tersebut, pasalnya banyak warga yang dirugikan khususnya para pedagang.

“Harapannya mohon dikaji ulang, apakah ini sebuah kebijakan yang benar-benar membawa dampak yang berguna bagi masyarakat atau tidak,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Koperasi Pasar (Koppas) HWI Lindeteves Chandra Suwono mengungkapkan, perluasan sistem ganjil-genap di Jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, Gunung Sahari, bukan solusi mengatasi kemacetan.

“Ganjil genap ini kan alasannya ada dua. Pertama terkait masalah emisi atau polusi yang kedua adalah kemacetan,” ujarnya.

Sementara untuk kemacetan Jalan Gunung Sahari menurutnya karena terlalu banyak traffic light. Tetapi jika di Jalan Gajah Mada sebenarnya kemacetan hanya ketika jam kantor, itu pun masih bisa jalan.

“Solusinya untuk Jalan Gunung Sahari saya pikir Pak Gubernur harus respons ini, solusinya itu flyover seperti di Jembatan Dua dan Jembatan Tiga,” imbuhnya.

Selain itu, Chandra menilai tidak tepat jika penerapan ganjil-genap dianggap mengurangi polusi udara. Sebab, polusi terbanyak bukan disebabkan oleh mobil. Dia menyebut kendaraan roda dua justru menghasilkan emisi lebih banyak.

“Sebetulnya kontribusi mobil (untuk emisi) itu sedikit karena sistem pembakaran mobil itu hampir mendekati zero emission. mungkin 10 tahun lagi produk mobil zero emissions. Maaf ya, kontribusi sepeda motor untuk emis itu luar biasa,” terangnya.

Senada dengan Chandra, Koordinator Forum Rakyat Lieus Sungkharisma juga mendukung gerakan menghijaukan Jakarta. Bahkan ia bersama warga di kawasan Glodok menggagas Gerakan Warga Gila Tanaman (Wagiman) yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran warga ibu kota tentang pentingnya menanam pohon dan menghijaukan lingkungan sekitar.

“Saya lihat kalau Jakarta semuanya buat gerakan Wagiman itu selesai (masalah polusi), hijau, asri, enggak perlu lagi itu perluasan ganjil-genap. Karena saya tahu persis ganjil-genap ini diperluas karena polusi Jakarta sudah semakin dasyat,” ucapnya.

Lieus menyebut, sebagian besar warga di kawasan Glodok sudah mulai menanam pohon. Mereka sudah mengetahui polusi udara di Jakarta memprihatinkan.

“Jadi saya lihat pedagang, warga di sini, toko-toko itu udah mulai taruh pot, masang pohon, asri itu. Ini kalau kita semua serempak dasyat itu. Jadi kalau gak ada lahan buat tanah pohon bisa di pot. Kalau lahan kosong dihijaukan,” tandasnya. (BS)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed