MADIUN – Petani tanaman kakao (Theobroma cacao) atau coklat di lereng Pegunungan Wilis, Kabupaten Madiun, Jawa Timur terus mengeluhkan adanya serangan berbagai jenis hama di perkebunan miliknya.
Peristiwa serangan hama itu, dapat menyebabkan turunnya hasil produkasi buah kakao para petani di daerah tersebut. Sehingga dari waktu ke waktu, banyak petani kakao yang lambat laut beralih ke komoditas lainnya seperti tanaman porang maupun buah durian.
Sementara tanaman kakao yang sudah ada diperkebunan petani, saat ini dianggap oleh sejumlah petani dapat mengganggu tanaman lain yang dinilai berekonomis tinggi. Akibatnya tanaman kakao yang ada, terpaksa dimusnahkan. Bahkan lahan-lahan yang sudah kosong itu, diganti dengan tanaman komoditas lain.
“Memang dua jenis tanaman ini, hasil panennya ditingkat pasaran nasional berekonomis tinggi. Ditambah minimnya perhatian pihak terkait, khususnya dalam mengatasi permasalahan hama hingga harga komoditas kakao ditingkat petani yang masih rendah. Misalnya biji kakao basah Rp1000/buah, sedang biji kakao kering antara Rp25.000-Rp30.000/kg,” kata Sugito, ketua Pengelola Rumah Coklat saat dihubungi belum lama ini.
Menanggapi kejadian turunnya hasil produksi kakao ditingkat petani lereng Pegunungan Wilis, Kabupaten Madiun? Pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun yakni Dinas Pertanian dan Perikanan (Dispertan) Kabupaten Madiun melalui Plt. (saat itu) Bidang Perkebunan yakni Parna, SP mengungkapkan bahwa hal itu disebabkan oleh berbagai faktor yang ada di lapangan.
Dijelaskan Kabupaten Madiun ini merupakan daerah penghasil kakao di Provinsi Jawa Timur, yang mana Kabupaten Madiun mempunyai tananam kakao seluas 12.071 hektar dengan jumlah produksi sebanyak 881 ton. Namun produksi ini, telah mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya, produksi kakao petani Kabupaten Madiun bisa mencapai 1.000 ton lebih.
“Sedangkan penurunan produksi kakao ini disebabkan petani kita, sementara ini perhatianya sudah tercurahkan pada komoditas lain yang dirasa punya nilai ekonomis tingggi. Petani kita, sekarang perhatianya ke tanaman porang. Kurang perhatian dari petani, juga mengakibatkan tanaman kakao kita tidak dilakukan pemangkasan. Sehingga tananam kakao kita menjadi rimbun,” ujarnya kepada DimensiNews.co.id, Senin 19 April 2021 sore.
Akibat itulah, lanjut dia, hama tupai serta hama-hama lainnya senang bersarang disana (pohon kakao). Kemudian tanpa melalui pemangkasan, sehingga tanaman kakao kurang bisa menghasilkan. “Intinya tanaman kakao itu, harus dipangkas biar hasil panennya bisa maksimal,” jelasnya.
Menurut Parna, bahwa kegiatan semacam itu sering kali diabaikan oleh sejumlah petani kakao diwilayah Kabupaten Madiun. Kemudian selain hama tupai, juga adannya hama helopeltis. “Hama-hama inilah yang menyerang buah kakao kita. Oleh karena itu, harus dilakukan pembrongsongan dengan kantung plastik pada saat buah kakao masih muda sebelum ada serangan. Tapi itupun juga banyak terabaikan, sehingga dua hal tersebutlah yang jadi pemicu turunya hasil produksi kakao kita,” ungkapnya.
Ia kembali menguraikan selain serangan hama juga kurangnya perhatian serius, sehingga pemupukkan tidak dilakukan secara berkala. Hal itu yang menyebabkan menurunnya produksi kakao di Kabupaten Madiun. Kemudian langkah-langkah yang diambil dinas yakni melakukan pembinaa pada kelompok tani yang masih ada. Terkait dengan tanaman kakao dan porang, merupakan suatu komoditas yang bisa hidup atau tumbuh secara berdampingan.
“Yang mana, kakao sebagai tananam pelindung. Tanaman porang yang ada di bawah sebagai tega-an. Jadi, inilah yang kita berikan kepada kelompok tani untuk sosialisasi di lapangan. Disamping itu kita juga memberikan materi dengan mengelola tananam kakao dan porang, maka petani kita dalam pemberdayaan ekonominya akan lebih mantab,” urainya lagi.
Menurutnya kakao merupakan tanaman yang bisa menghasilkan secara rutin, baik mingguan ataupun bulanan. Hasil dari kakao inilah, dapat memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari. Sedangkan untuk tanaman porang, inilah merupakan sumber penghasilan tahunan yang dapat diperoleh para petani. Hal itulah, langkah yang bisa dilakukan Dinas Dispertan Kabupaten Madiun. Selain itu, pihak dinas juga mengidentifikasi serta mempersiapkan lokasi yang mana, bisa dikembangkan untuk tanaman kakao. Tentu lebih lanjut akan diklarifikasi, identifikasi yakni melalaui kegiatan prioritas nasional Selingkar Wilis.
“Itu, nanti akan kita tanami dengan tanaman kakao. Lahan mana yang masih bisa atau memungkinkan untuk ditanami, tentu akan kita tanami kakao. Demikian juga dengan tanaman kakao yang sudah tua, akan kita rehabilitasi dengan mengganti jenis atau menanam tananam yang baru. Sehingga dengan demikian produksi kakao kita yang ada di Kabupaten Madiun khusunya di selingkar Wilis, Insya Allah kedepan akan lebih meningkat lagi,” tegas Parna, optimis.*(all)
















