oleh

Sosok Widodo yang Sukses Menjadi Kepala Madrasah dan Peternak

DimensiNews.co.id, SUKOHARJO- Sebagian orang jika sudah sibuk di kantor akan menggunakan sisa waktunya untuk refreshing, tak terkecuali Widodo, Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 5 Sukoharjo. Dia menggunakan waktu luangnya untuk refreshing, namun bukan refreshing yang mengeluarkan uang. Justru refreshing yang dilakukannya dapat menghasilkan pundi-pundi uang, yakni beternak burung Murai.

Selain menjabat sebagai kepala madrasah, Widodo juga diamanahi menjadi Ketua Kelompok Kerja Kepala Madarasah Ibtidaiyah (K3MI) Kabupaten Sukoharjo. Di bawah binaannya, MIN 5 Sukoharjo berhasil diubah dari madrasah biasa menjadi madrasah berprestasi. Predikat menjadi Sekolah Adiwiyata berhasil diraih madrasah yang terletak di perbatasan Sukoharjo dengan Gunung Kidul Tersebut.

Pada masa pandemi Covid-19 ini, Widodo sudah berhasil menerapkan pembelajaran online di madrasahnya dan pada pembagian rapor semester lalu sudah menjalankan penyerahan rapor secara online.

“Pada tahun ajaran baru ini di MIN 5 Sukoharjo kembali akan menerapkan pembelajaran online yang telah disesuailan dengan kondisi masyarakat di sini,” ungkapnya pada Dimensi News, Selasa (14/7/2020).

Menurut pria empat anak terebut, tahun ajaran baru ini banyak sekali pekerjaan di madrasah yang harus disiapkan terkait administrasi. Tak jarang harus pulang sore untuk menyelesaikan pekerjaannya.

“Awal tahun ajaran baru ini banyak sekali berkas yang harus ditandatangani,” ungkapnya ketika berbincang di kediamannya.

Meskipun memiliki kegiatan yang sangat padat, Widodo masih semangat dalam menjalankan usaha ternak burung yang di jalankannya setahun terakhir. Mulai dari murai, cocak rowo, dan burung kicau lainnya. Tak sekedar hobby, baginya memelihara burung merupakan kegemaran yang bernilai tinggi dan menjadi salah satu cara refreshing di tengah kesibukannya.

Hal itu memang ditunjukkan penataan kandang di halaman belakang rumahnya. Di depan kandang dibuat kolam ikan yang airnya mengalir terus, dan di sekitarnya ditanami tanaman hias yang nampak asri sehingga orang yang berada di halaman tersebut terasa nyaman diiringi gemericik aliran air.

“Kandang dibuat dengan settingan seperti ini bisa supaya mendekati habitat alami dari burung, sehingga bisa berproduksi dengan baik,” paparnya.

Sedikitnya 5 pasang burung murai yang sudah produktif, 2 pasang masa persiapan, dan sepasang cocak yang siap dikembangbiakan dipelihara oleh pria yang mempunyai bakat beternak dari kecil tersebut.

Widodo memang dari kecil sudah terbiasa beternak ayam kampung yang menurutnya waktu itu jumlahnya sampai ratusan ekor.

“Sebelum menjadi kepala madrasah saya juga ternak sapi, namun karena konsentrasinya terbagi akhirnya saya ganti memelihara burung yang lebih fleksibel,” kata Widodo.

Lebih lanjut, Widodo mengungkapkan bahwa ia belajar terlebih dahulu budidaya ternak burung sedikit demi sedikit. Tak jarang waktu belajar dahulu burung indukannya mati yang notabene harganya juga tidak murah.

“Ketika ada yang mati biasanya saya kurang fokus dalam memelihara, namun Alhamdulillah sekarang sudah tertata dengan baik,” jelasnya.

Hasil produksi anakan burung telah banyak dihasilkan dan diminati rekan kerja serta warga sekitar rumahnya. Dan ketika temannya berminat untuk membeli anakan, Widodo memberi harga yang jauh dibawah pasar.

“Bagi saya yang penting jalinan kerjasama dan persahabatan, uang bisa dicari lagi,” tuturnya merendah sambil berpamitan mau ke madrsah lagi untuk mengelesaikan pekerjaan meskipun waktu menunjukkan jam 17.00 WIB sore. (pry)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed