oleh

Warsito Berhasil Mengubah Sekolah “Gubuk” Menjadi Berstandar Nasional

DimensiNews.co.id, SUKOHARJO – Sepuluh tahun yang lalu tidak banyak masyarakat Sukoharjo yang mengenal Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Nglawu. Sebuah sekolah kecil di desa Telukan Kecamatan Grogol yang tidak jauh dari sungai Bengawan Solo.

MIN Nglawu mulai berbenah semenjak adanya kepala madrasah baru pada tahun 2011. Ketika itu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sukoharjo memberi tugas kepada Warsito untuk memimpin madrasah yang sekarang dikenal dengan MIN 6 Sukoharjo.

Pertama kali bertugas di MIN 6, Warsito merasa prihatin dengan kondisi sekolah waktu itu, di mana banyak sekali bangunan yang mengalami kerusakan dan jumlah murid keseluruhan hanya sejumlah 87 siswa.

“Memang sedikit kaget dengan kondisi waktu itu terutama kondisi bangunan yang sebagian dindingnya masih menggunakan Gedhek (gubuk) atau anyaman bamboo. Sehingga kalau terjadi hujan siang hari kami sedikit was was,” kata Warsito kepada Dimensi News pada Rabu (17/1/2020) siang.

Berbagai kondisi di tempat tugasnya yang baru tersebut membuat Warsito tidak patah semangat akan tetapi justru Ia bertekad untuk memperbaikinya. Berbagai terobosan Warsito lakukan untuk pengembangan madrasah. Ia mendatangi sendiri secara langsung sekolah lainnya untuk menyosialisasikan program-programnya termasuk kepada seluruh TK di wilayah Kecamatan Grogol.

“Kami perbaiki sistem manajemen pembelajaran termasuk berbagai pelayanan ke siswa. Hal ini kami publikasikan ke sekolah TK sekitar dan ternyata mendapat respon positif,” imbuh mantan Kepala MIN Mulur tersebut.

Warsito juga memotivasi guru dan karyawan madrasah waktu untuk bisa mengoptimalkan potensi yang menurutnya banyak sekali. Seluruh warga masyarakat menyambut baik arahan Warsito dengan mempromosikan potensi masyarakat luas.

“Alhamdulillah seluruh warga sekolah melakukan berbagai inovasi untuk membantu saya dalam pengembangan madrasah. Hal ini terlihat dengan meningkatnya pendaftar siswa baru ke madrasah kami pada tahun-tahun berikutnya dan saat ini jumlah keseluruhan mendekati 1000 siswa,” papar Warsito.

Lebih lanjut Warsito menjelaskan bahwa tahun 2017 Ia nekat menghadirkan petugas sarpras Kantor Kementerian Agama Wilayah Provinsi Jawa Tengah untuk menyaksikan langsung kondisi madrasah saat itu.

“Ternyata kerja keras saya membuahkan hasil dimana petugas sarpras tersebut langsung melaporkan ke Kepala Kanwil di Semarang dan pada tahun 2018 kami mendapat bantuan pembangunan 12 ruang kelas berstandar nasional termasuk mebelairnya,” ungkap Warsito.

Masih menurut Warsito, kondisi madrasah sekarang yang telah jauh berbeda dibanding masa awal Ia bertugas akan tetap ditingkatkan terus. Warsito akan menggandeng seluruh komponen stake holder madrasah untuk berinovasi.

“Bekerja itu sebagai ibadah, maka harus terencana, terprogram jelas dan akurat sehingga kelak memperoleh hasil yang memuaskan,” kata Warsito di akhir penjelasannya.(pry)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed