Oleh: Agus M Yasin, SH – Sekretaris KP3
Purwakarta, Jumat (3/10/2025)
Pendidikan di Indonesia hari ini kian jauh dari gambaran ruang belajar yang merdeka. Alih-alih menjadi tempat tumbuhnya ilmu dan karakter, ia justru kerap berubah menjadi panggung drama, dengan alur cerita yang ditentukan oleh mood pejabat.
Ketika pejabat sedang bersemangat mendorong inovasi, lahirlah sederet aturan baru. Namun ketika kebingungan melanda, arah kebijakan ikut terseret dalam pusaran ketidakpastian. Dalam situasi semacam ini, sekolah, guru, dan murid tidak lebih dari penonton setia—yang tetap dipaksa menanggung segala konsekuensi dari perubahan-perubahan mendadak.
Tumpang Tindih Aturan
Banjir regulasi yang sering kali saling tumpang tindih memperlihatkan bagaimana pendidikan lebih sering ditekan ketimbang dibimbing. Aturan administratif yang berlapis-lapis membuat guru sibuk dengan dokumen ketimbang mendidik. Alih-alih memerdekakan sekolah, birokrasi justru mencekik dari dalam.
Tekanan Eksternal
Tekanan internal itu diperparah oleh gangguan eksternal. Intervensi politik, kepentingan bisnis, hingga praktik-praktik komersialisasi membuat sekolah kian menjauh dari fungsinya sebagai taman ilmu. Tidak jarang, sekolah justru tampak lebih mirip pasar yang sibuk dengan transaksi daripada ruang yang menumbuhkan pengetahuan.
Generasi dalam Kebingungan
Jika situasi ini terus dibiarkan, jangan heran bila generasi muda Indonesia lebih terlatih untuk menyesuaikan diri dengan kebingungan ketimbang dilatih berpikir jernih. Pendidikan yang seharusnya menjadi fondasi masa depan bangsa, justru berisiko menciptakan generasi yang gamang menghadapi tantangan zaman.
Sebuah Ironi
Dengan kondisi demikian, pendidikan kita berada dalam sandera: ditekan dari dalam, diganggu dari luar, dan diarahkan semata oleh mood para pejabat. Hasilnya adalah sebuah ironi: sistem yang digadang-gadang sebagai jalan membangun masa depan, tetapi justru perlahan-lahan menghancurkan harapan.*(AsBud)
















