Pemkab Pandeglang Antisipasi Lonjakan Kasus Baru Covid-19 Pasca Libur Lebaran

  • Bagikan
Bupati Pandeglang, Irna Narulita.

BANTEN – Pemkab Pandeglang mengaku tak bisa berbuat banyak jika terjadi lonjakan kasus Covid-19 setelah libur lebaran 2021. Apalagi jika kapasitas kamar di RSUD Banten sebagai rumah sakit rujukan Covid-19 sudah penuh.

Akan tetapi, Pemkab Pandeglang akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan perawatan terhadap pasien Covid-19 di RSUD wilayahnya, meski ada keterbatasan kapasitas. Tempat isolasi mandiri bagi pasien Covid-19 pun juga sudah disiapkan oleh pemerintah.

“Sudah enggak ada lagi jawaban, kami tangani semampu, sebisa kita. RS di Pandeglang ada untuk covid dan isolasi covid ada. Setidaknya antisipasi jikalau RSUD provinsi dalam kondisi yang memang penuh, kita ada tempat di sini, itu mah pilihan akhir,” kata Bupati Pandeglang, Irna Narulita, Kamis (20/5/2021).

BACA JUGA :   Walikota Jakarta Barat Resmikan Mesjid Al-Kautsar SMPN 45 Cengkareng

Irna mengatakan lonjakan kenaikan pasien positif Covid-19 klaster wisata bisa terlihat setelah 10 hari Idul Fitri. Meski terjadi kerumunan, dia berharap terjadi kenaikan kasus Covid-19 secara signifikan.

Kini, Satgas Covid-19 sedang melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap warga Pandeglang, dikhawatirkan sudah ada yang terpapar virus tersebut.

“Bisa kita ketahui 7 sampai 10 hari setelah setelah lebaran, pasti ada lonjakan. Karena kemaren ada yang abai, ada yang lengah,” ujarnya.

Karena terjadinya kerumunan di sejumlah lokasi wisata, Gubernur Banten, Wahidin Halim pun mengeluarkan instruksi gubernur (Ingub) yang memerintahkan seluruh destinasi wisata ditutup sejak 15-30 Mei 2021. Keputusan itu kemudian disambut demonstrasi oleh pedagang dan pengelola wisata di Pandeglang.

BACA JUGA :   Peduli Warga Terdampak, PAC PP Kota Malang Bagikan Sembako

Irna mengatakan wilayahnya termasuk zona kuning Covid-19, sehingga lokasi wisata tidak harus ditutup seluruhnya, melainkan hanya pelanggar prokes saja yang ditutup sebagai hukumannya.

“Apabila ada pengelola wisata, home stay dan sebagainya, tidak bisa mengendalikan para wisatawan, kita tutup, supaya ada efek jera. Saya fleksibel, melihat kondisi di lapangan, masyarakat saya juga butuh makan, para pedagang sudah lama, dua tahun ini untuk mencari peruntungannya, down semuanya,” tuturnya*(Fit)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses