GRESIK – Cahaya lampion merah menggantung berderet di halaman Klenteng Kim Hin Kiong, memantulkan kilau keemasan di wajah ratusan warga yang memadati kawasan Jalan Dr. Setia Budi, Kelurahan Bedilan, Selasa (3/3/2026) malam. Dentuman tambur barongsai bersahutan dengan doa-doa yang dipanjatkan khidmat. Di tengah suasana penuh warna itu, ada satu hal yang terasa menonjol: harmoni.
Perayaan Cap Go Meh tahun ini bukan sekadar penutup rangkaian Tahun Baru Imlek. Ia menjadi ruang perjumpaan lintas suku, agama, dan profesi. Anak-anak kecil duduk di bahu ayahnya menyaksikan atraksi barongsai, remaja sibuk mengabadikan momen, sementara para orang tua berbincang santai di tepi jalan. Di antara kerumunan itu, aparat kepolisian terlihat berbaur, mengatur arus, sekaligus sesekali tersenyum menyapa warga.
Kapolres Gresik, AKBP Ramadhan Nasution hadir langsung memantau jalannya pengamanan. Namun malam itu, kehadirannya bukan sekadar simbol pengawasan, melainkan pesan tentang kebersamaan.
Didampingi jajaran pejabat utama Polres Gresik, ia menyusuri area klenteng, memastikan setiap sudut kegiatan berjalan aman tanpa mengurangi kekhidmatan ibadah.
“Keamanan bukan hanya soal penjagaan, tetapi juga tentang rasa nyaman dan saling percaya. Kami ingin masyarakat merasakan bahwa perayaan ini adalah milik bersama,” ujarnya di sela peninjauan.
Pengamanan dilakukan terbuka dan tertutup, melibatkan berbagai satuan fungsi. Di sisi lain, petugas lalu lintas sigap mengurai kepadatan kendaraan yang sempat menumpuk di sekitar lokasi. Meski ribuan warga hadir, situasi tetap terkendali.
Ketua Klenteng, Sutanto, menyampaikan apresiasi atas kesiapsiagaan aparat. Menurutnya, kehadiran polisi yang humanis membuat umat lebih tenang menjalankan ibadah. “Kami merasa dilindungi sekaligus dihormati,” tuturnya.
Momentum Cap Go Meh di Kota Santri ini pun menjadi potret kecil Indonesia dalam skala lokal. Di tengah beragam latar belakang, warga Gresik membuktikan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang hidup di ruang-ruang publik.
Hingga acara usai, tak ada gangguan berarti. Lampion tetap menyala, barongsai menutup pertunjukan dengan riuh tepuk tangan, dan warga pulang membawa kesan hangat. Di bawah cahaya merah yang perlahan redup, Gresik sekali lagi menunjukkan bahwa keberagaman bisa berjalan beriringan dengan rasa aman. (By)
















