Wakil Ketua MPR RI Ibas Ajak Mahasiswa Maknai ‘Paradox Socrates’

  • Bagikan
Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), Wakil Ketua MPR RI dari Partai Demokrat.

JAKARTA- Wakil Ketua MPR RI dari Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengajak mahasiswa di hadapannya untuk sama-sama memaknai ‘Paradox Socrates’. Hal tersebut disampaikan Ibas ketika menghadiri acara peluncuran dan bedah buku “Menegakkan Amanah Konstitusi Pendidikan” yang ditulis oleh Dr. Dede Yusuf M. Effendi.

“Jadi teringat mengenai ‘Paradox Socrates’ yang berkata: Saya tahu bahwa saya cerdas, karena saya tidak tahu apa-apa,” ungkap Ibas.

“Mungkin terdengar membingungkan pada awalnya. Bagaimana mungkin seseorang bisa cerdas, jika mereka tidak tahu apa-apa? Ternyata, Socrates percaya bahwa orang yang paling bijaksana adalah mereka yang terus belajar dan mencari pengetahuan, bukan mereka yang berpura-pura sudah mengetahui segalanya,” lanjut Ibas.

BACA JUGA :   Dukung Energi Bersih, Eddy Soeparno Dorong Pembangkit Sampah Listrik di Manado

Dalam sambutannya, Ibas kemudian bertanya, apakah salah, jika kita tetap belajar pada sistem pendidikan di dunia? Model pendidikan seperti apa yang terbaik untuk Indonesia?

“Di Finlandia, fokus pendidikan lebih pada pembelajaran berbasis keterampilan. Di Singapura, keunggulan dalam matematika dan sains dikedepankan. Di Jepang, dikenal pendidikan karakter dan disiplin pembelajaran seumur hidupnya. Di Belanda, kita bisa melihat pendekatan personalisasi dalam pembelajaran. Sedangkan di Kanada mengedepankan pendidikan inklusif dan dukungan yang luas,” jelas Ibas.

Sehingga menurut Ibas ‘Paradox Socrates’ menjadi relevan, jika kita bisa menerapkan beberapa hal ini: misalkan, pendidikan Indonesia harus adaptif, mengacu pada kemajuan zaman, kultur, namun tetap memegang erat nilai-nilai 4 pilar kebangsaan kita.

BACA JUGA :   Pelibatan Diaspora Langkah Strategis dalam Pengembangan Pariwisata Nasional

“Harus ada sikap terbuka dan kritis dalam dunia pendidikan. Harus ada juga rasa ingin tahu yang besar dengan kerendahan hati ingin belajar dan berkembang,” ungkap Ibas.

“Harus ada penguatan infrastruktur pendidikan, teknologi, hubungan kerja, dan tingkat kebahagiaan sejahtera hidup untuk para tenaga pendidik,” lanjut Ibas menekankan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses