DimensiNews.co.id, BANTEN – 14 orang santri dari Pondok Pesantren Nurul Hikmah, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang yang diduga keracunan akibat menghirup udara yang dihasilkan dari pengolahan limbah B3 kini kondisinya mulai membaik.
Ketiga belas orang santri yang sebelumnya mendapatkan perawatan dari puskesmas setempat sudah kembali pulang ke rumah masing-masing. Namun ada satu orang santri yang masih dirawat karena diketahui memiliki riwayat penyakit asma masih menjalani perawatan.
Hal itu disampaikan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Hikmah Enday Hidayat saat ditemui DimensiNews.co.id Sabtu, (31/8/2019) di kediamannya.
“Ada 13 orang yang sudah diperbolehkan pulang, tetapi masih ada satu santri lagi yang masih dalam perawatan. Kabarnya hari ini juga sudah diperbolehkan pulang,” kata Enday, Sabtu (31/08).

Menurut Enday, pihaknya tidak menuduh pihak manapun terkait kejadian luar biasa tersebut. Akan tetapi, sesuai dengan kondisi yang terjadi hingga saat ini, masih tercium bau menyengat yang dirasakan penghuni pesantren dan warga sekitar.
“Saat ini kami fokus untuk masalah perawatan santri-santri kami. Kami ini orang kecil, tidak berani mengatakan sebab dan akibat dari mana peristiwa itu bisa terjadi. Seperti yang anda (wartawan) rasakan sekarang. Bau limbah masih tercium dan membuat mata perih,” ujarnya.
Enday menjelaskan, bahwa masyarakat sekitar sudah terbiasa mencium bau tidak sedap yang ditimbulkan oleh perusahaan pengolahan limbah di sekitar pesantren dan pemukiman di wilayahnya, yang menjadi persoalan para santri adalah bukan penduduk asli daerah tersebut. Mereka berasal dari beberapa daerah di Kabupaten Tangerang.
“Kalau kami dan warga sudah terbiasa dengan bau seperti ini sejak lama, tapi mereka (santri) kan bukan penduduk asli di sini,” imbuhnya.
Dari pantauan dan yang dirasakan DimensiNews.co.id di lokasi memang tercium bau menyengat di kawasan tersebut. Dan menurut Enday Hidayat serta beberapa warga sekitar mereka mengaku bahwa bau tersebut ditimbulkan dari asap pengolahan oli yang tak jauh dari pesantren dan pemukiman warga.
“Bau ini dari pabrik oli yang ada di ujung sana. Setiap hari kami mengalami kondisi seperti ini. Tetapi baru kali ini dampak dari bau ini terjadi,” imbuhnya.
Di hari yang sama, DimensiNews.co.id mendatangi perusahaan oli yang berlokasi di Komplek Pergudangan Akong di Jalan Karet III yang tidak jauh dari pesantren dan pemukiman tersebut, dan benar didapati bau yang ditimbulkan oleh asap pembakaran dari dalam pabrik.
Namun sayang, saat dikonfirmasi pemilik pabrik sedang tidak ada di tempat.
Sebelumnya diketahui, pada hari Rabu (28/08/2019) malam sebanyak 14 santri dilarikan ke puskesmas setempat akibat diduga keracunan karena menghirup bau tidak sedap saat mereka melakukan pengajian rutin. (rn/hl)
















