Zuhud adalah salah satu sifat Rasulullah SAW, dimana beliau meninggalkan hal-hal yang berlebihan dalam kehidupan duniawi yang penuh nafsu dan menyesatkan. Meski Rasulullah menjabat sebagai kepala negara sekaligus pemuka agama, beliau hidup dengan penuh kesederhanaan. Janganlah berpikir Rasulullah hidup zuhud karena beliau fakir atau kekurangan, sebab bisa saja beliau hidup bergemilang harta seperti para raja yang berkuasa, namun beliau memilih untuk hidup dalam kesederhanaan. Semua itu Rasulullah lakukan agar umat Islam dapat meneladani akhlak mulia yang terdapat dalam diri beliau. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 21:
” Sesungguhnya dalam diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat kepada Allah “.
Dan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
” Sungguh aku diutus menjadi Rasul tiada lain untuk menyempurnakan akhlaq ”
Jika Rasulullah hidup bermewah-mewahan, bagaimana kita mendapatkan pelajaran tentang akhlaq dan tauladan yang baik?. Tentu kita akan mencemooh orang yang bicara tentang akhlaq, namun dirinya sendiri tidak mempraktekkan dalam kehidupan sehari-harinya.
Dengan kehidupan zuhudnya, beliau ingin mendidik generasi Islam agar tidak berlebih-lebihan dalam kemewahan, agar mengerti arti saling tolong menolong sesama manusia, agar tidak menjadi manusia yang tinggi hati. Betapa kita lihat dewasa ini, banyak orang yang gaya hidupnya mewah memiliki hati yang sombong dan kerap tak peduli dengan orang-orang dilingkungannya yang kesusahan.
Walaupun hidup Rasulullah terkadang kekurangan, namun setiap ada yang datang kepada beliau dan meminta sesuatu, Maka tak segan-segan Rasulullah memberikan apa yang orang itu minta tanpa merasa khawatir akan ditimpa kemiskinan. Hal itu bisa terjadi karena sebagai Utusan Allah, beliau tentunya memiliki banyak mukjizat.
Beberapa keteladanan Rasulullah yakni, beliau lebih dulu menyapa salam kepada para sahabat sebelum sempat para sahabat menyapa beliau, memperhatikan dengan seksama jika ada orang yang berbicara dengan beliau baik anak kecil maupun dewasa. Jika bersalaman, maka Rasulullah akan mengulurkan tangannya terlebih dahulu dan tidak akan menarik tangannya sampai orang yang disalaminya itu melepaskan. Beliau selalu memenuhi undangan para sahabat, orang-orang miskin, tanpa membeda-bedakan. Membawa barang-barangnya sendiri jika beliau pergi ke pasar. Menambal baju dan memperbaiki sendiri sendal beliau yang kala itu rusak. Bahkan terkadang membantu istri tercinta dalam menangani tugas ibu rumah tangga. Dan masih banyak lagi kisah teladan yang beliau contohkan untuk umat tercintanya.
Semoga kita dapat memetik hikmah serta dapat meneladani keteladanan Rasulullah SAW dan menjadi bahan renungan di tengah penatnya hiruk pikuk dunia yang tak habis-habisnya menggoda.
(AF)

















