oleh

Tingkatkan Imun di Masa Pandemi, Masyarakat Masih Gunakan Temulawak

DimensiNews.co.id, SUKOHARJO – Mewabahnya Covid-19 di Indonesia yang diketahui pada awal tahun 2020 membuat masyarakat berlomba-lomba untuk mencegahnya. Salah satu usaha tersebut yaitu meningkatkan daya tahan (imun) tubuh. Berbagai cara dilakukan antara lain olahraga, mengkonsumsi makanan bergizi dan suplemen untuk tubuh.

Suplemen untuk tubuh bisa diperoleh dari hasil produk pabrik ataupun yang berasal dari bahan tradisional seperti jamu. Pada masa awal pandemi, bahan dasar pembuat jamu seperti jahe dan temu lawak banyak dicari oleh masyarakat yang membuat harganya melejit. Temulawak menjadi incaran karena diyakini bisa meningkatkan kekebalan tubuh.

Salah satu pedagang jamu di Pasar Nguter Sukoharjo, Yatmini, yang ditemui DimensiNews pada Senin (26/10/2020), mengungkapkan bahwa Ia sampai kehabisan stok temu lawak waktu itu karena banyaknya orang membeli dalam jumlah banyak.

“Temulawak itu dari dulu banyak digunakan untuk masyarakat untuk meningkatkan kesehatan dan menambah nafsu makan,” kata Yatmini.

Seorang pedagang lainnya, Sunarmi, menambahkan bahwa di pedagang Pasar Nguter yang merupakan pasar jamu terbesar di Solo Raya sempat menerima pesanan temulawak dari berbagai kota dalam jumlah yang sangat besar.

Perlu diketahui bahwa tranaman temulawak yang mempunyai nama latin Curcuma zanthorrihiza L. merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh liar di hutan-hutan jati di Jawa dan Madura.

Temulawak termasuk tumbuhan semak berumur tahunan, batang semunya terdiri dari pelepah-pelepah daun yang menyatu, mempunyai umbi batang. Tinggi tanaman antara 50-200 cm, bunganya berwarna putih kemerah-merahan atau kuning bertangkai 1,5-3 cm berkelompok 3 sampai 4 buah.

Tumbuhan ini tumbuh subur pada tanah gembur, dan termasuk jenis temu-temuan yang sering berbunga. Panen dapat dilakukan pada umur 7-12 bulan setelah tanam atau daun telah menguning dan gugur. Sebagai bahan tanaman untuk bibit digunakan tanaman sehat berumur 12 bulan.

Temulawak termasuk tanaman tahunan yang tumbuh merumpun dengan habitus mencapai ketinggian 2-2,5 meter. Tiap rumpun tanaman ini terdiri atas beberapa anakan dan tiap anakan memiliki 2-9 helai daun. Daun temulawak bentuknya panjang dan agak lebar. Panjang daunnya sekitar 50-55 cm dan lebar ± 18 cm. Warna bunga umumnya kuning dengan kelopak bunga kuning tua dan pangkal bunganya berwarna ungu.

Rimpang temulawak bentuknya bulat seperti telur dengan warna kulit rimpang sewaktu masih muda maupun tua adalah kuning kotor. Warna daging rimpang adalah kuning dengan cita rasa pahit, berbau tajam dan keharumannya sedang. Untuk sistem perakaran tanaman temulawak termasuk 11 tanaman yang berakar serabut dengan panjang akar sekitar 25 cm dan letaknya tidak beraturan.

Sementara itu, menurut Ali Rosidi, SKM, Dosen Program Studi Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Semarang, Temulawak mempunyai beberapa kandungan senyawa kimia yang terdapat pada rimpangnya, antara lain berupa fellandrean dan turmerol atau yang sering disebut minyak menguap.

“Temulawak juga mengandung minyak atsiri, kamfer, glukosida, foluymetik karbinol dan an kurkuminoid,” jelasnya.

Lebih lanjut Ali Rosidi menjelaskan bahwa kurkuminoid terdiri atas kurkumin dan desmetoksikurkumin, yang bermanfaat menetralkan racun, menghilangkan nyeri sendi, meningkatkan sekresi empedu, menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida darah, antibakteri, mencegah pelemakan dalam sel-sel hati, dan antioksidan.

“Adanya minyak atsiri pada Temulawak berkhasiat untuk meningkatkan produksi getah empedu dan menekan pembengkakan jaringan,” imbuhnya. (pry)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed