DimensiNews.co.id, TULUNGAGUNG – Peringati Hari Batik Nasional, seorang Pengusaha Batik Gajah Mada Tulungagung bagikan ribuan masker dengan motif batik khas Tulungagung. Pembagian masker ini semata-mata tidak hanya untuk memperingati hari batik saja. Namun, juga turut mengajak masyarakat Tulungagung untuk menerapkan protokol kesehatan dalam penggunaan masker.
Pembagian masker gratis ini dilaksanakan di perempatan TT, tepatnya sebelah Selatan aloon-aloon Tulungagung, Jumat (2/10/2020).
Pengusaha Batik asal Tulungagung, Ike Yuliana menjelaskan, pada momentum hari batik ini, pihaknya turut serta menggandeng aparat Kepolisian untuk membantu membagikan ribuan masker tersebut.
Ike mengakui bahwa, pembagian masker dimasa pandemi seperti ini dirasa sangat bermanfaat bagi masyarakat. Mengingat masker saat ini merupakan benda wajib yang harus selalu digunakan bagi setiap masyarakat demi mencegah paparan Covid-19.
“Sebanyak 3000 masker yang kami bagikan secara gratis kepada masyarakat Tulungagung,” ujar Ike Yuliana saya ditemu di Perempatan Tulungagung Theater (TT) usai membagikan masker.
Meski secara umum masyarakat Tulungagung sudah memiliki masker sendiri, namun pembagian masker ini dimaksutkan agar masyarakat juga memiliki masker ganti. Mengingat pemakaian masker kain biasa hanya direkomendasikan untuk pemakaian selama empat jam.
“Kami juga ingin membantu pemerintah dalam mensukseskan program penerapan protokol kesehatan. Yakni aktif memakai masker,” jelasnya.
Pada kesempatan ini pula, Ike, mengundang beberapa model cantik asal Tulungagung untuk turut memperagakan fashion show. Perempatan TT sendiri disulap olehnya menjadi panggung catwalk bagi 10 model. Peragaan fashion show menurut Ike, juga sebagai sarana memperkenalkan batik pada masyarakat luas, utamanya menyasar kalangan muda di Tulungagung.
Terlebih, selama pandemi Covid-19, minat masyarakat dalam membeli batik kian menurun. Padahal, batik yang mereka perjual belikan merupakan batik khas Tulungagung. Akibatnya, penjualan batik hasil produksinya menurun hingga 80 persen.
“Selama pandemi, pembeli luar kota otomatis menghentikan permintaan. Padahal pembelian dari luar kota mencapai 60 persen dari hasil penjualan,” kata Ike.
Untuk itu, guna menggenjot penjualan selama pandemi Covid-19. Jika semula pihaknya hanya memproduksi batik berupa pakaian, namun kini pihaknya juga mulai merambah ke pembuatan masker. Sehingga hal itu diharapkan setidaknya masyarakat juga mau membeli batik produksinya meski hanya berupa masker.*(Pan)
















