Lestari Moerdijat: Empat Pilar Kebangsaan Memiliki Makna Ekologis Kuat

  • Bagikan
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat dalam acara nonton bareng (nobar) film Maira Generasi Penjaga Bumi, di Bioskop New Star Cineplex (NSC) Kudus, Jawa Tengah, Kamis (30/4) sore.(Dok. MPR RI)

JAKARTA- Empat Pilar Kebangsaan tidak hanya bermakna dari sisi  politik dan hukum, tetapi juga memiliki perspektif ekologis. Wakil Ketua MPR RI  Lestari Moerdijat menegaskan hal itu dalam keterangan tertulisnya, Jumat (1/5). 

Pernyataan itu disampaikan Lestari dalam sambutannya pada acara nonton bareng (nobar) film Maira Generasi Penjaga Bumi, di Bioskop New Star Cineplex (NSC) Kudus, Jawa Tengah, Kamis (30/4) sore.

Acara nobar dalam rangka Sosialisasi Empat Konsensus Kebangsaan itu dihadiri para mahasiswa dan komunitas pemuda di Kudus dan sekitarnya. 

“Selama ini, kita sering hanya memaknai empat pilar dalam konteks politik, hukum, dan kehidupan sosial saja. Namun, marilah kita melihatnya dari sudut yang lebih dalam dan lebih mendasar,” ujar Lestari.

BACA JUGA :   Dongkrak Roda Perekonomian, Pemdes Girijaya Bangun Jalan

Menurut Rerie, sapaan akrab Lestari, nilai kebangsaan sejatinya berbicara tentang hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan alam. 

Empat konsensus kebangsaan—Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika—memiliki makna ekologis yang kuat.

“Ketika kita berbicara tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, itu tidak hanya dalam hubungan antarmanusia, tetapi juga  kemampuan kita untuk tidak merusak lingkungan. Kita tidak bisa menyebut diri kita beradab jika kita merusak ruang hidup kita sendiri,” tegasnya.

Rerie yang juga Anggota Komisi X DPR RI itu menambahkan bahwa UUD 1945 mengamanatkan sumber daya alam dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. 

Namun, tegas Rerie, kemakmuran sejati adalah yang bisa diwariskan kepada generasi berikut, bukan bersifat sesaat.

BACA JUGA :   Diduga Korupsi Dana Desa Rp 741Juta Mantan Kades Ditangkap Polisi di Tapsel

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mengingatkan bahwa saat ini dunia tidak lagi berbicara tentang climate change, tetapi sudah memasuki fase krisis lingkungan.

Krisis yang dihadapi, menurut Rerie, bukan hanya soal alam, tetapi juga soal cara berpikir, cara mengambil keputusan, dan cara memandang kehidupan.

Rerie menyebut, film Maira Generasi Penjaga Bumi bukan sekadar cerita, melainkan cermin hubungan manusia dengan hutan, dengan alam, serta cermin pilihan dan konsekuensinya.

Ia mengajak penonton untuk tidak sekadar melihat, tetapi merasakan, memahami, dan mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

“Menjaga lingkungan bukan pilihan. Menjaga lingkungan adalah keharusan. Dan menjaga lingkungan adalah menjaga bangsa ini,” pungkas Rerie.*

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses