JAKARTA – Anggota Komisi I DPR RI, Krisantus Kurniawan, menilai, saat ini telah terjadi perubahan tren wisata sebagai dampak adanya pandemi Covid-19. Menurutnya, masyarakat saat ini cenderung lebih memilih untuk bepergian dengan kelompok kecil ketimbang berbondong-bondong seperti sebelum pandemi.
Krisantus menyampaikan hal ini saat menjadi narasumber dalam
Seminar dengan tema “Menyikapi dan Menyiasati Tren Industri Pariwisata di Tengah Pandemi Covid-19” secara daring yang diselenggarakan oleh BAKTI Kominfo berkerja sama dengan Komisi I DPR RI, Minggu (19/4/2021).
Krisantus menyebut, jenis wisata yang diminati saat ini adalah ecotourism, adventure tourism, and wellness tourism.
“Ini diperkirakan akan menjadi jenis wisata yang paling diminati khususnya dengan grup kecil dan aktif seperti interaksi di luar ruangan dan kegiatan edukasi alam,” kata Krisantus.
Untuk itu, kata dia, pemerintah dan para generasi muda atau milenial harus mulai memanfaatkan momen ini untuk mengembangkan potensi wisata alam di daerah-daerah atau desa yang belum diketahui oleh masyarakat.
“Media digital menjadi alat yang sangat pas untuk mempromosikan potensi-potensi tersebut sehingga ketika desa tersebut berkembang maka perekonomian di suatu daerah dapat tergerakkan kembali khususnya bidang UMKM,” ujarnya.
“Komisi I dan Kementerian Komunikasi dan Informasi RI pada APBN tahun 2021 telah menyepakati dan menyetujui pembangunan 721 titik BTS di Kalbar. Tentu ini sangat mendukung upaya-upaya pemerintah dalam mengembangkan objek pariwisata untuk masa yang akan datang dalam hal promosi dan sebagainya,” lanjutnya.
Narasumber selanjutnya dalam seminar itu yakni Ketum Gerakan Pakai Masker, Pengusaha Sektor Pariwisata/Perhotelan, Sigit Pramono. Ia menyampaikan soal Kawasan Wisata Sehat Terkendali (KAWIST) sebagai upaya terobosan percepatan pemulihan sektor pariwisata, kantong pertumbuhan ekonomi dan percepatan program 3T serta vaksinasi.
Sigit mengatakan, salah satu syarat keberhasilan pengendalian pandemi adalah harus ada perubahan perilaku masyarakat yang sebelumnya tidak terbiasa pakai masker menjadi terbiasa. Menurutnya, ini penting karena memakai masker sudah mengurangi risiko penularan sampai 70-75 persen, sementara 30 atau 25 persen adalah jaga jarak dan sering cuci tangan.
“Jika masyarkat disiplin pakai masker, orang yang terkena Covid-19 semakin sedikit, artinya pandemi dapat dikendalikan. Sehingga tidak perlu lagi ada pembatasan-pembatasan, larangan mobilitas, tidak boleh liburan, tidak boleh mudik, dan sebagainya. Ini semua karena masyarakat belum disiplin. Jika masyarakat disiplin dapat menyelamatkan nyawa dan perekonomian,” ucap Sigit.
Sementara, Direktur IKPM, Ditjen IKP Kemkominfo RI, Septriana Tangkary, mengatakan, dalam era globalilasi ini kehadiran teknologi internet semakin lekat di kehidupan sehari-hari baik dalam kegiatan sosial, pendidikan, bisnis, dan lainnya.
Dia menuturkan, Indonesia menjadi negara keempat terbesar dalam pertumbuhan internet tertinggi di dunia dengan penggunaan internet sebesar 175 juta dan media sosial 160 juta. Ini berbanding terbalik dengan penduduk Indonesia yaitu 272,1 juta jiwa namun populasi penggunaan ponsel sebesar 338,2 juta jiwa.
Septriana melanjutkan, adanya industri 4.0 mampu melenyapkan sejumlah pekerjaan namun disisi lain juga menghadirkan jenis pekerjaan baru yang dapat kita lihat seperti social media specialist, short engineering, content creator, web developer, data scientist dan app developer.
“Untuk bisa beradaptasi dengan perubahan yang dibawa dalam revolusi industri 4.0 harus memiliki kemampuan memecahkan masalah misalnya dengan kreativitas atau meningkatkan soft skill merupakan kunci keberhasilan daripada kegiatan 4.0 ini,” katanya.
Septriana menyebut, upaya yang dilakukan untuk pemulihan ekonomi Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) antara lain penyediaan sinyal khususnya daerah 3T, pembangunan BTS di wilayah-wilayah komersial, mengupayakan sinyal yang memadai, dan mendukung pelatihan dalam bidang kepariwisataan dan ekonomi kreatif.
Asapun lima destinasi wisata super prioritas di masa pandemi ini yakni Danau Toba, Candi Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang.
“Pariwisata adalah rumahnya kita. Jadi kalau kita mau melaksanakan pariwisata di Indonsia saja tak usah jauh-jauh. Indonesia cukup indah dengan seluruh destinasi yang ada,” tandasnya.*(Dng)
















