oleh

Dapat Imbalan Rp 200 Ribu, Seorang Mucikari Dibekuk Polisi

DimensiNews.co.id, MADIUN – Sebut saja Ism, seorang perempuan muda yang menjadi tersangka dugaan tindak pidana perdagangan anak di bawah umur (prostitusi online/mucikari) dihadirkan dalam gelar perkara di Pendopo Polres Madiun, Selasa 11 Agustus 2020.

Kasat Reskrim Polres Madiun AKP Aldo Febrianto didampingi Kasubbag Humas Polres Madiun IPTU Gaguk Widodo menyampaikan tersangka Ism 34 th asal Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Jawa Timur mengaku sangat menyesal atas perbuatannya.

Saat di salah satu hotel di Kabupaten Madiun yaitu tepatnya Sabtu 1 Agustus 2020 atau sekira pukul 23:30 WIB tersangka ini menawarkan serta menyediakan wanita pekerja seks komersial (PSK) melalui media sosial (medsos) dengan aplikasi MiChat dan WhatsApp.

”Malam itu juga, anggota Unit PPA Reskrim Polres Madiun langsung melakukan penyelidikan. Hasilnya, anggota kami berhasil mengamankan saksi korban tindak pidana prostitusi online/mucikari di salah satu penginapan yakni inisial Sw 20 th dan An 15 th,” jelasnya.

Menurutnya, dua orang perempuan muda yang bekerja sebagai pemandu lagu ini, dilakukan interogasi petugas dan hasilnya, Ism yang merupakan terduga sebagai perantara atau mucikari diamakan untuk dilakukan pemeriksaan intensif. Hasil pemeriksaan, tersangka mengakui telah menawarkan saksi korban Sw warga Kabupaten Magetan dan An warga Kota Madiun yakni melalui Medsos.

Tersangka menawarkan Sw dan An kepada pria hidung belang, malam itu Ism berhasil memperoleh uang sebesar Rp 1,4 juta. “Lalu uang hasil penjualan atau bisnis prostitusi online ini dibagi tiga orang yakni Sw dan An masing-masing mendapat Rp 600 ribu. Sedangkan mucikari Ism mendapatkan bagian Rp 200 ribu,” ungkap Aldo Febrianto.

Ia menjelaskan, akibat perbuatannya itu, tersangka Ism dapat dijerat dengan Pasal 88 Jo 76 i UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 10 tahun.

Selain itu, juga dengan Pasal 45 ayat (1) UURI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang No 11 Tahun 2018 tentang ITE dengan Ancaman Hukuman paling lama 6 tahun. ”Sedangkan Pasal 296 KUHP dengan Ancaman Hukuman 1 tahun 4 bulan. Untuk Pasal 506 KUHP dengan Ancaman Hukuman 3 bulan,” tandasnya.

Sebagai tindaklanjut proses hukum selanjutnya, imbuh Aldo Febrianto, maka sejumlah barang bukti diamankan Polres Madiun. Barang Bukti itu antara lain 4 unit handphone, 12 kondom, serta uang senilai Rp 1,4 juta.*(all)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed