Dukung Wisata Selingkar Wilis, Dispernakan Kabupaten Madiun Kembangkan Kakao dan Kopi

  • Bagikan
Parna, SP yang juga Plt. Bidang Perkebunan Dispernakan Kabupaten Madiun.

DimensiNews.co.id, MADIUN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun mulai melirik potensi kawasan Gunung Wilis sebagai pontensi “wisata alam selingkar wilis” hingga agrowisata, baik dari hasil perkebunan buah kakao atau coklat maupun kopi.

Untuk mendukung pembangunan pariwisata, Pemkab Madiun melalui Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan (Dispernakan) melaksanakan kegiatan sosialisasi pengembangan tanaman kakao dan kopi kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) khususnya yang berada di kawasan Selingkar Wilis, Kabupaten Madiun.

“Kegiatan ini dalam rangka menyongsong program pariwisata di Kabupaten Madiun. Kebetulan tahun 2021, fokus kegiatan kami diarahkan ke Selingkar Wilis. Untuk mendukung program ini, kami sesuaikan dengan potensi wilayah yaitu pengembangan tanaman kakao dan kopi,” ujar Kepala Bidang Kelembagaan dan SDM/Plt. Bidang Perkebunan Dispernakan Kabupaten Madiun, Parna SP, Jumat 13 November 2020.

Ia menguraikan bahwa Selingkar Wilis khususnya di Gunung Wilis, mempunyai potensi luar biasa yang perlu disikapi serta dikembangkan. Seperti kopi khas Kabupaten Madiun yang berada di wilayah Kare, itu mempunyai tes rasa yang sangat tinggi. Sehingga, itu perlu diadopsi dan dikembangkan di kawasan lainnya. Begitu juga kakao yang merupakan produksi terbesar di Jawa Timur, sehingga perlu adanya pengembangan.

Untuk itu tahun 2020 ini, pihaknya mengalokasikan kegiatan pengembangan tanaman kakao dan kopi diwilayah Kare khususnya yang terbagi menjadi beberapa desa. Kedepan juga pengembangan di Desa Mendak, Desa Segulung-Kecamatan Dagangan dan Desa Cermo, Desa Kepel-Kecamatan Kare.

Program itu telah dianggarkan untuk pengembangan tanaman tersebut, dengan maksud pihaknya mengetahui selingkar wilis mempunyai potensi wisata yang saat ini lagi ngetren dan berkembang yaitu di Watu Rumpuk. Sehingga lokasi Mendak dan Segulung, sangat cocok dijadikan sasaran untuk tanaman kakao. Harapan kedepan bahwa kakao disana nanti dapat berkembang, kemudian hasil produksi juga bagus. Tentu, pihaknya akan menindaklanjuti yakni untuk pasca panen.

BACA JUGA :   TMMD ke 110 Tahun 2021 di Kabupaten Sukabumi Resmi Dibuka

Dari situlah masyarakat bisa menikmati hasil pertanian, kemudian juga jadikan suguh ole-oleh para wisatawan yang berkunjung di tempat wisata tersebut. “Ya jangan sampai datang ke wisata Watu Rumpuk, kemudian ole-olehnya nanti yang dari luar daerah. Kami mempersiapkan sejak dini, walaupun itu belum bisa sepenuhnya. Tetapi, kami awali dengan tanamannya dulu. Apabila tanamannya berkembang, nanti akan kami kembangkan lagi terhadap pasca panennya serta pengolahannya,” ujar Parna, lagi.

Menurut dia bantuan kegiatan tahun 2020 ini, pihaknya mengalokasikan sebanyak 15.000 bibit tanaman kakao dan kopi 7.000 bibit untuk dikembangkan dilahan masyarakat. Karena memang pemberdayaan masyarakat, walaupun sebetulnya didalam lahan itu terdapat tanaman lain bahkan tidak ada lahan yang kosong. Tetapi, masih ada tempat atau kesempatan untuk pengembangan tanaman tersebut. Misalkan jika tanaman disentralkan satu hamparan yang satu komoditas itu, maka tidak bisa. Karena memang kultur masyarakat kawasan selingkar wilis, jenis apapun tanaman (komoditas)-nya tentu akan ditanam.

“Pernah saya tanyakan ke beberapa petani disana? Jawabnya jika nanti terjadi tanaman satu ini harganya jatuh, maka masih bisa ditutup oleh komoditas atau tanaman lainnya. Untuk itu, kebanyakan petani disana, jarang yang menanam satu komoditas. Begitu ada bibit, maka semua akan di tanam,” paparnya.

BACA JUGA :   MPR RI Bersama PWI Adakan Uji Kompetensi Wartawan Parlemen

Parna mengatakan untuk mengawal petani agar tanaman tumbuh maksimal, dan sesuai harapan karena kelak hasil panennya bagus sesuai yang diharapkan pemerintah daerah? Maka pertama memang pihaknya penyediaan bibit tanaman. Tentunya bibit yang unggul, berkualitas dan harus bersertifikasi. Itulah faktor utama yang harus diperhatikan, karena memang bantuan ini dikawal Dispernakan Kabupaten Madiun yang di dalamnya Bidang Perkebunan.

Kemudian agar didalam pelaksanaan ini, juga tidak terjadi suatu timpang siur atau ada permasalahan dan sebagainya. Untuk itu, pihaknya melakukan sosialisasi sebelum pelaksanaan kegiatan itu berjalan kepada calon penerima bibit. Sehingga calon penerima bibit lebih gamblang, bisa menerima dan paham tentang kegiatan apa yang mereka terima. Begitu juga perawatan tanaman seperti apa, nanti yang mereka lakukan? Tentunya, mereka akan diberi pembekalan oleh petugas lapangan yang terkait.

“Apa bila nanti sudah di droping bibit, tentunya kami selaku dinas teknis akan mengawal kegiatan tersebut. Mendapingi petani atau kelompok tani penerima bibit dalam hal budidaya, maupun mengatasi penyakit/hama tanaman yang ada di selingkar wilis sesuai lokasi yang sudah dipilih,” tandasnya.

Ia berharap pengunjung wisata selingkar wilis, jangan sampai nanti pulang mendapat ole-oleh dari luar daerah. Meski dikawasan selingkar wilis, belum merata industri pengolahan kakao atau coklat. Karena memang baru wacana kedepan, dan belum dimulai. Namun hanya daerah-daerah tertntu, yang sudah melakukan pengolahan kakao. Tetapi untuk wisata atau sekitar Watu Rumpuk Mendak, memang belum ada pengelolahan kakao. Kedepan kalau bisa, tetap yang mengelola hasilnya adalah masyarakat sekitar atau petani tersebut.

BACA JUGA :   Pecahkan Kaca Mobil Gondol Tipe Pelaku Di Ringkus Polsek Tanjung Duren

Untuk proses itu, pihaknya akan membina masyarakat sekitar agar bisa melakukan vermentasi kakao sendiri. “Sehingga seandainya nanti ada hasil ataupun keuntungan yang diperoleh dari pasca panen itu, tidak akan lari ke daerah lain. Tetapi, bisa dinikmati oleh masyarakat sekitar sendiri. Kalau kopi saat ini, masih dari Seweru-Kare. Itu, memang menjadi andalan kami,” ungkapnya.

Parna menambahkan sedangkan untuk pengembangan tanaman kopi, yakni nanti di Desa Cermo dan Desa Kepel. Karena kopi yang akan dikembangkan, adalah kopi jenis arabika. Karena kopi arabika secara teknis, penanamannya minimal harus 900 meter di atas permukaan air laut agar menghasilkan suatu tes yang maksimal. Sedangkan untuk setiap tahun jumlah produksi bubuk kopi layak saji, hingga ini belum bisa dirinci secara detail.

Karena baru dari kelompok tani yang mengelola kopi itu sendiri, sehingga belum ada target produksi. Tetapi produksi kopi Kare sendiri, sudah bisa untuk mencukupi terutama hasil kemasan dari kelompok tani tersebut. “Disamping dipasarkan keluar daerah juga diwilayah Kare sendiri, ada warung-warung kopi yang akan kami bina. Masyarakat Madiun dan sekitar seandainya kepingin menikmati kopi Kare, nanti bisa berkunjung kesana. Inilah kopi Kare yang sesungguhnya,” tuturnya.*(all)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses