DimensiNews.co.id, JAKARTA- Sejumlah wilayah di Indonesia diprediksi akan terjadi hujan lebat pada Kamis dini hari nanti. Hal tersebut disampaikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Hujan akan turun secara merata di seluruh kawasan Jakarta termasuk Kepulauan Seribu.
Secara keseluruhan, BMKG memperkirakan cuaca berawan hingga hujan ringan akan terjadi di Kepulauan seribu, Jakarta Utara, Jakarta Pusat dan Jakarta Timur. Memasuki siang hari cuaca serupa diprediksi menaungi Jakarta Selatan dan Timur.
Kondisi berawan hingga hujan ringan itu masih akan berlanjut hingga malam hari dan terjadi secara merata di seluruh kawasan Jakarta kecuali bagian timur. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat baru akan terjadi pada dini hari nanti di seluruh area ibu kota.
BMKG juga mengimbau agar masyarakat agar mewaspadai potensi hujan lebat disertai kilat dan angin kencang. Hal tersebut diperkirakan mungkin terjadi di area Jakarta dan Kepulauan Seribu pada malam dan dini hari.
Dalam konferensi pers, Selasa (25/2) BMKG telah memprediksi bahwa cuaca buruk akan terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Cuaca ekstrem ini akan terjadi hingga satu pekan ke depan.
“Potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi hingga periode Maret mendatang,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. Dia mengatakan, cuaca demikian sudah terpantau sejak 1866-2019 lalu. Dia melanjutkan, hal yang sama diproyeksi juga akan terjadi di masa yang akan datang atau sekitar tahun 2020-2040.
BMKG juga mengimbau agar pemerintah pusat dan daerah melakukan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Karena itu, Dwi menambahkan, koordinasi dan sinergitas antara stakeholder dalam penanganan bencana banjir perlu ditingkatkan.
Dwi menegaskan, pengelolaan lingkungan dan tata air dari hilir ke hulu sangat penting. Sebab, jumlah akumulasi curah hujan di wilayah hulu relatif lebih tinggi 1,4 kali dibanding wilayah hilir. Karena itu, pihaknya meminta agar pemerintah dapat mengintegrasikan pengelolaan lingkungan.
Dia menambahkan tata kelola air harus mampu menyimpan air lebih lama di wilayah hulu. Sistem hidrolik atau infrastruktur bangunan air juga perlu diperkuat karena curah hujan ekstrem lebih dominan di wilayah hilir.
“Pengelola banjir harus sejalan dengan pengelolaan kekeringan untuk menjaga ketahanan air pada saat musim kemarau,” katanya. (red)
















