by

Data Penerima BLT Tak Sesuai, Camat akan Panggil PJ Kepala Tiyuh Panaragan

DimensiNews.co.id, TUBABA- Kepala Tiyuh Panaragan, Anizar mengaku lepas tangan terkait carut marutnya penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) yang bersumber dari dana desa beberapa waktu lalu.

“Data penerima BLT itu merupakan hasil data RT, RK, yang kemudian diputuskan dalam musyawarah desa bersama BPT. Jadi yang punya hak menentukan penerima BLT adalah mereka, saya hanya mengesahkannya saja,” kilahnya saat dihubungi via telpon, Senin (18/5/2020).

Sementara itu, Camat Tulang Bawang Tengah, Ahmad Nazarudin Salam menyayangkan masih ada warga tidak mampu di Tiyuh Panaragan yang tidak terdata, malah justru warga yang tergolong mampu malah terdata menjadi penerima BLT.

“Sesuai acuan, ada 14 kategori yang berhak menerima BLT diantaranya, rumah masih berdinding papan atau bambu yang belum tersentuh bantuan baik dari pusat yakni PKH dan program Kabupaten yakni Mantra,” jelasnya.

Camat milenial ini juga mengatakan, pihaknya tidak mengetahui siapa dan bagaimana penerima BLT tersebut karena data itu merupakan hasil verifikasi aparatur tiyuh di tingkat RT dan RK.

Namun, dengan adanya dugaan penyaluran BLT tidak tepat sasaran, Nazarudin berjanji akan segera memanggil PJ Kepala Tiyuh Panaragan dan mengecek langsung penerima BLT yang dinilai tidak layak menerima.

“Saya akan segera memanggil PJ Kepala Tiyuh Panaragan untuk kita minta keterangannya, dan jika ternyata benar adanya penerima yang tidak layak maka tidak menutup kemungkinan data penerima BLT tersebut kita revisi kembali,” tegasnya di ruang kerjanya, Senin (18/5/2020).

Seperti diketahui, sejumlah warga Tiyuh/Desa Panaragan mengeluhkan sistem penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diselenggarakan tiyuh tersebut.

Aditya Saputra, salah satu warga Tiyuh Panaragan RT 03/RW 2 mengeluhkan pembagian BLT yang dianggapnya tidak merata dan tidak tepat sasaran.

“Saya mengeluhkan pembagian BLT, pada saat pembagian ATM dan rekening kemarin, warga yang terdampak Covid-19 seperti korban PHK, bahkan buruh seperti saya justru tidak menerima. Sebaliknya, warga yang ekonominya mapan justru dapat BLT,” ungkapnya, Sabtu malam (16/5/2020) di kediamannya di Tiyuh Panaragan.

Aditya yang merupakan perantauan dari Jakarta ini pulang ke kampung halaman akibat di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) oleh perusahaan tempatnya bekerja.

Aditya juga menambahkan dirinya sempat didata dan dikarantina secara mandiri di rumah saat baru tiba di kampung halaman Tiyuh Panaragan.

“Akibat wabah corona ini, saya kehilangan pekerjaan di perantauan, sehingga terpaksa pulang ke kampung halaman. Dan tentunya saya berharap dapat perhatian dari tiyuh kampung halaman saya ini,” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Dahalim, warga RT 03/RW 1. Pria paruh baya yang kesehariannya berprofesi sebagai sopir truk yang kini telah berhenti akibat Covid-19 ini juga mengeluh, karena tidak mendapatkan BLT dari tiyuh.

“Akibat covid-19 ini saya kehilangan pekerjaan, dan tidak bisa lagi menghidupi keluarga saya. Untuk itu, saya mengharapkan BLT itu diberikan juga kepada keluarga kami, karena kami juga warga yang berhak mendapatkannya,” cetusnya.

Apriyadi, salah satu tokoh pemuda Tiyuh Panaragan yang mendampingi warga, juga mengungkapkan adanya kesenjangan dalam pembagian BLT di tiyuh tersebut.

“Banyak sekali kejanggalan dalam pembagian BLT kepada 281 orang warga Tiyuh Panaragan ini. Selain adanya warga terdampak Covid-19 yang tidak mendapatkan BLT, berdasarkan data penerima BLT, beberapa nama kita ketahui ekonominya mapan dan sebagian nama lainnya merupakan aparatur Badan Permusyawaratan Tiyuh (BPT) setempat,” ungkapnya.

Pria yang kerap di sapa Yadi ini juga menuturkan, ada salah satu warga yang usianya senja dan tergolong tidak mampu justru luput dari pendataan. Padahal, dia belum pernah mendapatkan bantuan apapun, baik PKH ataupun program Mantra yang juga salah satu program bantuan sosial yang menjadi unggulan di Kabupaten Tubaba.

“Saya berharap pihak tiyuh bersikap adil dalam pembagian BLT ini, dan segera mendata ulang kembali warga yang benar-benar terdampak virus corona ini, serta menyalurkannya benar-benar kepada yang berhak menerimanya. Jangan sampai di masa pandemi ini justru menjadi ajang kesempatan berbuat kolusi,” tukasnya. (Candra)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed