by

Polda Jatim Ungkap Penyelundupan 27.542 Benih Lobster Senilai 4,2 M

DimensiNews.co.id, Surabaya – Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim ungkap kasus Perikanan pertama kali di tahun 2020 di tengah Pandemi wabah Covid – 19 (Corona).

Kabidhumas Polda Jatim, Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, S.I.K. didampingi Direktur Reserse Kriminal Khusus, Kombes Pol Gidion Arif Setiyawan, Kasubdit IV Tipidter Kompol Wahyudi dan Muhlin dari Balai Karantina Ikan Kendali Mutu dan Keamanan Hasil (BKIPM) Surabaya I, telah menggelar konferensi pers tentang kasus perikanan ( Lobster ) yang diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : 56 Tahun 2016.

“Penangkapan tersebut dilakukan oleh anggota Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim pada Senin lalu, 6 April 2020 di jalur gerbang tol Pasuruan, dan berhasil mengamankan tersangka saudara AJ dan MDS, salah satunya dari Pekalongan, dan dari Lubuk Linggau.” Ujar Kabidhumas Polda Jatim, Kombes Pol Trunoyudo, Kamis (09/04/2020).

“Kasus ini terungkap berdasarkan temuan anggota Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim dan berhasil melakukan pencegahan dan penyelamatan terkait dengan tindak pidana penyelundupan benih lobster yang berasal dari Lombok dengan tujuan ke Batam, Singapura.” imbuhnya.

Tim penyidik Unit IV Subdit IV/Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim mendapati informasi terkait adanya penyelundupan benih lobster dari Lombok yang akan melintas di wilayah Jawa Timur.

Selanjutnya Tim penyidik menangkap pelaku di Tol Kejapanan Kabupaten Pasuruan yang dengan menggunakan 1 (satu) mobil Avanza warna hitam dengan Nopol G 9486 NM yang didalamnya membawa 1 (satu) Styrofoam berisi 27.542 (dua puluh tujuh ribu lima ratus empat puluh dua) ekor benih lobster yang terdiri dari 26.222 (dua puluh enam ribu dua ratus dua puluh dua) ekor benih lobster jenis pasir dan 1.320 (seribu tiga ratus dua puluh) ekor benih lobster jenis mutiara, yang mana benih lobster tersebut akan di bawa ke Apartemen Hight Point Petra Surabaya untuk dilakukan penyegaran dan pemackingan ulang dan siap diselundupkan dengan tujuan Singapore Via Batam. Adapun jalur yang digunakan yaitu Jalur darat maupun udara.

Menurut Muhlin, dalam ketentuannya yang boleh ditangkap atau dikeluarkan yakni lobster yang beratnya 200 gram per ekor. Kalau benih sudah pasti tidak boleh. Kemudian dalam kondisi bertelur juga tidak boleh, Kecuali untuk khusus penelitian dan pengembangan itu boleh.” Ujarnya.

Sementara itu Muhlin juga menyatakan bahwa Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56 Tahun 2016 belum dicabut, dan belum di revisi. Itu artinya peraturan tersebut masih berlaku sampai saat ini. Siapapun yang melanggar itu merupakan pelanggaran pidana.” Ujar Muhlin.

Sementara itu, Direktur Kriminal Khusus Polda Jatim, Kombes Pol Gidion Arif Setyawan mengatakan, “Ini merupakan ungkap kasus Perikanan pertama kali di tahun 2020 di tengah pandemi Covid 19. Benih lobster sistemnya close market, pasti ada jaringan, kalau keterangannya Singapura, tapi kita akan lakukan pendalaman beberapa warga konsumen dari negara negara tetangga kita, benur ini diminati konsumen dari Malaysia, Singapura, kemudian ke China. Makanya tersangka kita hadapkan ke belakang. Kalau harga benur di transaksinya 4,2 Miliar rupiah. Tetapi kerusakan ekosistem lingkungan yang ditimbulkan itu menjadi persoalan penting dalam penegakan hukum yang akan kita tindak tegas.” Ujarnya.

Atas perbuatannya kedua tersangka dijerat dengan Pasal 86 ayat (1) Jo Pasal 12 ayat (1) dan/atau Pasal 92 Jo Pasal 26 ayat (1) dan/atau Pasal 100 Jo Pasal 7 ayat (2) huruf m Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan Jo Pasal 55 KUHP, dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara dan denda 2 Miliar Rupiah. (By)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed