oleh

Penanganan Covid-19 RSUD dr Iskak Serap Anggaran BTT Rp. 54 Miliar

DimensiNews.co.id, TULUNGAGUNG – Sejak merebaknya pandemi virus corona (Covid-19) bulan Maret 2020 lalu, Pemerintah Kabupaten Tulungagung telah membentuk Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (TGTPP) Covid-19. Hingga bulan Oktober 2020 ini proses pencegahan dan RSUD dr Iskak Tulungagung telah menyerap anggaran senilai Rp54,44 Miliar, untuk penanganan medis.

Dimana, anggaran tersebut bersumber dari belanja tidak terduga (BTT) yang dianggarkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung, sebagai upaya percepatan penanganan coronavirus disease (Covid-19) semaksimal mungkin.

Direktur RSUD dr. Iskak, dr Supriyanto Dharmoredjo, Sp.B, FINACS, M.Kes melalui Kasi Informasi dan Pemasaran, Moch Rifai mengatakan dana yang dibutuhkan dalam penanganan medis tentunya cukup besar. Dimana, anggaran yang bersumber dari biaya tidak terduga (BTT) ini diperuntukkan bagi penanganan di rumah sakit. Baik untuk pasien terkonfirmasi, maupun suspek, jumat (27/11/2020).

“Kalau dana BTT ini peruntukkannya macam-macam, dan sejauh ini besaran dana yang digunakan sejak awal kasus sampai Oktober kurang lebih Rp. 54 M,”jelasnya.

Rifai menuturkan kendati dana yang digunakan tergolong besar, namun hal tersebut untuk memaksimalkan layanan kesehatan. Seperti membeli peralatan kesehatan. Mulai dari ventilator, alat pelindung diri (APD) bagi tenaga kesehatan (nakes), hingga kebutuhan pendukung seperti pembelian alat rapid maupun reagen yang akan digunakan untuk pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR).

Seperti halnya upaya Pemkab Tulungagung yang melalukan pendeteksian dini terhadap penularan Covid-19, yakni dengan melakukan pemeriksaan secara massif. Terutama bagi warga yang memiliki riwayat melakukan perjalanan ke daerah terinfeksi maupun memiliki kontak erat dengan pasien terkonfirmasi.

“Untuk itu kami pihak RSUD dr Iskak mengambil langkah dengan membuat kebijakan rapid test dan swab gratis bagi masyarakat asli Tulungagung,” tuturnya.

Masih menurut Rifai, rupanya upaya ini mampu membantu melakukan deteksi dini atau temuan kasus baru. Seperti halnya ada salah satu warga yang periksa secara mandiri, rupanya dia terkonfirmasi namun tidak menunjukkan gejala. Kasus-kasus semacam ini tentu menjadi perhatian penting untuk melakukan deteksi dini.

“Ini selain memudahkan masyarakat untuk menjangkau layanan kesehatan, upaya ini terbukti mampu membantu melakukan deteksi temuan-temuan kasus baru. Dan program ini masih berjalan sampai sekarang,” paparnya.

Rifai menambahkan, besaran anggaran tidak hanya untuk melakukan deteksi dini temuan kasus Covid-19, namun biaya tersebut juga digunakan untuk insentif tambahan bagi para nakes yang telah turun langsung dalam penanganan Covid-19.

“Ya seperti diketahui, insentif bagi nakes ini sebagai bentuk apresiasi pemerintah terhadap jasa para nakes yang menjadi garda terdepan penanganan Covid-19,” imbuhnya.

Rifai menegaskan, penyesuaian anggaran BTT selalu intens dilakukan. Menurutnya jika ada perubahan perencanaan anggaran BTT terus disesuaikan dengan kondisi penanganan Covid-19.

“Kita tidak bisa memprediksi kapan pandemi berakhir. Di bidang kesehatan, pembelian kebutuhan penanganan Covid-19 terus berjalan. Di jaring pengaman sosial, data terus bergerak. Maka, kami harus menyesuaikan perencanaan anggaran dengan kondisi tersebut, dan semoga pandemi ini segera berakhir” ucapnya.*(Cris/Untung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed