oleh

Perdebatan Tak Kunjung Henti, Nasib Warga Sepatan yang Dianiaya Sang Suami

DimensiNews.co.id, TANGERANG – Diduga akibat dari perdebatan yang tak kunjung henti, Nur (38) yang mantan karyawati, warga Sepatan, Kabupaten Tangerang seringkali mendapatkan penganiayaan dari suaminya (AS) hingga luka lebam, Jumat (23/10/2020).

M. Hasanudin alias Ghabel Ketua Gerakan Reformasi Masyarakat (GERAM) Banten DPC Kabupaten Tangerang menjelaskan, bahwa korban bernama Nur adalah benar salah satu warga di Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang yang saat ini pihaknya dampingi dalam menuntaskan masalah penganiayaan.

”Kami mendapatkan pengaduan dari pihak keluarganya sekitar pukul 18.30, WIB, tepatnya pukul 20.00 WIB kami bersama team mendatangi kediaman Nur, dan benar adanya Nur dalam kondisi kesakitan,” tambah M. Hasanudin alias Ghabel.

Selain itu M. Hasanudin alias Ghabel menjelaskan pula bahwa menurut pengakuan Nur, dirinya sering kali mendapatkan perlakuan penganiayaan seperti ini bermula dari seringnya debat karena AS yang saat ini berstatus suami Nur telah memiliki istri lain tanpa sepengetahuan Nur.

Kami dari pihak Lembaga kata M. Hasanudin pada jUMAT malam (23/10/2020) mendampingi Nur untuk melaporkan AS ke pihak Aparat Hukum di Polres Metro Tangerang Kota di Jalan Daan Mogot Kota Tangerang.

“Hasil dari laporan tersebut AS dilaporkan Penganiayaan (Pasal 351 KUHP), kami dari pihak Lembaga sangat berharap pihak Kepolisian mengusut tuntas kasus ini, sehingga si pelaku mendapatkan hukumannya sesuai dengan apa yang telah dilakukannya,” imbuhnya.

“Sebagai pelajaran kepada seluruh masyarakat yang ada di Kabupaten Tangerang khususnya supaya tidak mengalami seperti Nur dan supaya tidak melakukan penganiayaan seperti yang dilakukan AS,” tegas M. Hasanudin alias Ghabel.

Nur dalam penjelasannya mengatakan dirinya sudah seringkali AS (suami-red) melakukan pemukulan terhadapnya. “Saya masih memaafkan karena masih melihat masa depan anak, tapi untuk penganiayaan yang terakhir kali ini saya bener-benar tidak bisa terima lagi perlakuan suami yang kasar. Saya di tampar dan didorong ke tembok sampai pipi saya memar dan kaki saya luka,” ungkap Nur.

Nur menambahkan, meski disaksikan dengan teriakan anak yang paling kecil yang berusia 7 tahun, namun AS tidak mengindahkannya, tetangga pun saat kejadian menyaksikannya, akibat seringnya saya disakiti AS. “Saya memutuskan meminta cerai namun AS tidak memberikan cerai sampai buku nikah kami keduanya di ambil AS,” tegas Nur dengan nada sedih dan kesakitan.*(dul)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed