by

Warga Kecamatan Uluere Keluhkan Pembangunan Jembatan S. Sinoa Yang Molor

DimensiNews.co.id, Bantaeng – Masyarakat yang berdomisili di Kecamatan Uluere mengeluhkan proyek pembangunan jembatan S. Sinoa di Desa Bonto Maccini, Kecamatan Sinoa, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan yang molor masa pengerjaannya.

Proyek pembangunan jembatan Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi yang menggunakan dana APBD Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sebesar Rp. 3.971.390.138,20 tersebut pengerjaannya tidak sesuai dengan jadwal yang tercantum di papan proyek yang seharusnya sudah selesai pertengahan bulan Desember 2019 lalu.

Namun pada kenyataannya hinga saat ini baru sekitar 85 persen terselesaikan. Sehingga hal itu menjadi pertanyaan bagi masyarakat yang sehari-hari menggunakan akses jalan tersebut. Selain membengkaknya biaya transportasi pengguna jalan, jembatan darurat yang disediakan untuk kendaraan roda dua sangat membahayakan bagi pengguna yang melintas.

“Kami sudah empat bulan lebih menunggu jembatan itu terselesaikan. Tapi sampai sekarang belum juga selesai pembangunannya. Sehingga kami sebagai warga merasa dirugikan karena dampak molornya proyek tersebut, biaya tranportasi warga membengkak karena harus jalan memutar. Begitu juga untuk tarif angkutan umum,” kata Kasman, salah satu warga yang ditemui DimensiNews di dekat lokasi proyek, Kamis (16/1/2020).

Kasman berharap kepada instansi terkait agar segera menyelesaikan pembangunan jembatan tersebut. Karena di musim penghujan saat ini warga sangat kesulitan dengan sarana transportasi yang terhambat akibat molornya proyek pembangunan jembatan S. Sinoa.

“Kami sebagai warga berharap kepada pemerintah dan pihak terkait agar segera menyelesaikan proyek itu. Dan jika ada pelanggaran atau ketidakberesan dengan proyek itu sebaiknya pihak Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan turun langsung ke lokasi proyek agar masyarakat juga jelas persoalannya,” pungkasnya.

Sementara itu melalui sambungan seluler, Kepala Pejabat Pengadaan dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Sulawesi Selatan Edi Rahman mengatakan, terkait molornya pembangunan jembatan tersebut terkendala proses pembebasan lahan, proses tender yang molor, dan faktor cuaca yang tidak memungkinkan. Dia juga menyalahkan jangka waktu proses pengerjaan yang hanya empat bulan.

“Volume terahkir baru delapan puluh lima persen di bulan Desember, jadi mulai tanggal 31 Desember pelaksana proyek kita denda sampai sekarang. Dan sampai saat ini anggaran yang cairkan baru uang muka saja sebesar tiga puluh persen,” terang Edi kepada DimensiNews, Kamis (16/1/2020).

Namun saat dikonfirmasi terkait adanya keretakan bangunan jembatan di bagian dasar Edi membantahnya. “Tidak ada itu, kan untuk pengawasan sudah ada konsultannya. Kalau untuk keluhan masyarakat kita sebelumnya sudah sosialisasikan dan kita sudah siapkan jalan darurat untuk roda dua,” jelasnya.

“Saat ini sudah memasuki tahap pengecoran, dan dalam tiga hari ke depan sudah dilakukan pengaspalan. Jadi dalam empat belas hari ke depan jembatan sudah dapat dipergunakan,” pungkas Edi Rahman. (DN)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed