by

Alun-alun Indonesia Siap Dukung Komunitas Kreatif Jakarta

DimensiNews.co.id JAKARTA – Kreativitas memang tidak mengenal usia. Di tangan para Oma ini, perca atau potongan kain batik sisa jahitan pakaian bisa menjadi karya yang bernilai ekonomis.

Pada Rabu (25/9/2019)ini, puluhan perempuan dengan usia di atas 50 tahun tampak sibuk di salah satu sudut Alun-Alun Indonesia, Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Mereka tengah memotong kain bermotif bunga warna warni.

Potongan itu ditempel di atas plastik Suspesco dengan lem khusus. Setelah setengah jam merekat kuat lantas dipotong mengikuti motif.

Langkah selanjutnya mereka memanaskan plastik suspesco dengan lilin dan digosok-gosok dengan Burin. Burin ialah kayu seperti pena dengan ujung tumpul berbentuk setengah bola.

Tujuan mereka ialah membuat kreasi tiga dimensi dari kain perca untuk hiasan kalung. Sejumlah kalung cantik pun tercipta dari bahan-bahan sederhana ini.

Aktivitas ini dimotori oleh Prelyo yang merupakan singkatan dari Patricia, Elizabeth, Lily dan Yolanda. Patricia sebagai mentor, Lily sebagai disainer, Elizabeth dan Yolanda memasarkan hasil karya.

Elizabeth mengatakan, aktivitas mereka bermula sekitar enam bulan lalu. Saat itu, Patricia yang berprofesi sebagai penjahit punya banyak potongan kain batik sisa membuat baju. Karena bermotif cantik lantas dia tidak rela membuangnya.

“Lalu terpikirkan bagaimana memanfaatkan kain perca ini sebagai barang yang bermanfaat. Makanya terpikirkan untuk membuat Suspesco Batik,” jelasnya.

Dan akhirnya pun mereka berbagi peran. Ada yang bertugas mencari cara untuk melakukannya, mendisainnya dan setelah jadi siapa yang memasarkannya.

Menurutnya, dari seni ini bisa menghasilkan banyak karya. Tapi mereka memilih untuk membuat kalung. Selain tidak membutuhkan banyak material, ternyata hasilnya banyak yang suka.

“Awalnya coba-coba. Tapi kita lihat hasilnya bagus. Banyak yang suka, makanya kita pasarkan lewat instagram,” ungkapnya.

Patricia menambahkan, hasil karyanya laku dijual dari harga Rp 100-500 ribu. Tergantung ukurannya. Untuk bunga tiga dimensi tunggal dihargai Rp 100 ribu.

“Kalau sudah berupa rangkaian kita jual sampai Rp 500 ribu. Lumayan laku karena jualannya mengandalkan mulut ke mulut,” ujarnya.

Senior Marketing Manager Alun Alun Indonesia Nurhayati Lagoda mengatakan, pihaknya berencana menjadikan Alun Alun Indonesia di Grand Indonesia sebagai wadah “kopi darat” berbagai komunitas kreatif di Jakarta.

“Hari ini kita membuka kelas Suspesco Batik. Alhamdulillah ada 30 orang yang mendaftar dan datang. Para peserta mendapatkan peralatan untuk memulai kreasi ini. Yakni, perca batik, lem dan kalung. Mereka dilatik untuk membuat kalung yang hasilnya bisa dibawa pulang,” ucapnya.

Pihaknya berkomitmen untuk melestarikan berbagai aktivitas kreatif di Jakarta. Hasil kreasi dari komunitas itu lantas dikurasi. Kreasi yang dinilai berkualitas baik dan memiliki pasar akan ditampung untuk dijual di Alun Alun Indonesia.

“Karya seni di Indonesia itu sangat banyak. Kami berkomitmen untuk melestarikannya. Caranya seperti ini. Mengumpulkan komunitas kreatif dan memasarkan hasilnya,” tutupnya.(Set)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed